Tinjauan Hukum Islam Terhadap Sistem Bagi Hasil Masyarakat Nelayan (Studi Kasus di Desa Pala’lakkang Kecamatan Galesing Kabupaten Takalar)

Israh Maudya Makmur, Marilang Marilang

Abstract


Skripsi ini membahas tentang Tinjauan Hukum Sistem Bagi Hasil Masyarakat Nelayan (Patorani) di Desa Pala’lakkang Kecamatan Galesong. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui Sistem bagi hasil dalam perjanjian penangkapan telur ikan antara Juragan (Papalele) dengan Buruh nelayan Patorani di Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar dalam perspektif hukum Adat dan Untuk mengetahui Sistem bagi hasil dalam perjanjian penangkapan telur ikan antara Juragan (Papalele) dengan Buruh nelayan Patorani di Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar dalam perspektif hukum Islam. Jenis penelitian yang digunakan adalah pendekatan Kualitatif dimana peneliti terjun langsung ke Lapangan untuk mengumpulkan data melalui Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi yang kemudian datanya dengan metode-metode Reduksi data, penyajian data (data display), dan Penarikan kesimpulan. Penelitian menggunakan sampel penelitian dengan memilih beberapa orang yang terdiri dari Punggawa, Juragan/papalele, dan Buruh Nelayan/sawi desa Pala’lakkang Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar, data yang diterima kemudian dianalisis untuk mengetahui bagaimana Sistem Bagi Hasil Masyarakat Nelayan (Patorani) di Desa Pala’lakkang Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar. Hasil penelitian di Desa Pala’lakkang Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar mengenai Sistem Bagi hasil belum sepenuhnya berjalan dengan adil, pada beberapa kasus, ketidak adilan biasa terjadi dilakuakan oleh pinggawa kepada sawi, seperti menyalahgunakan modal untuk kepentingan pribadi. Sistem bagi hasil antara Papalele, pinggawa, dan sawi di Desa Palalakkang Kecamatan Galesong termasuk dalam kategori mudharabah muqayyadah, yang mana pemilik modal atau Papalele memberikan dana kepada Pinggawa untuk dipergunakan untuk menangkap telur ikan, dengan sistem pembagiaan yang didasarkan pada perhitungan 30% diambil papalele dan 70% akan dibagi oleh Pinggawa dan sawi dengan hitungan dua bagian akan diperoleh pinggawa. Namun, pada beberapa kasus jika Pinggawa dan sawi tidak memperoleh keuntungan dari hasil penjualan tangkapan telur ikan. Maka, Pinggawa dan sawi tidak akan mendapatkan uang sepeserpun dari hasil melaut, bahkan pinggawa dan sawi memiliki hutang terhadap pemilik modal yakni Papalele untuk membayar kerugian yang diperoleh.
Kata Kunci: Hukum Islam, Bagi Hasil


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Iqtishaduna : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Jurusan Hukum Ekonomi Syari'ah

Fakultas Syariah dan Hukum

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar