DAKWAH DI TENGAH KERAGAMAN DAN PERBEDAAN UMAT ISLAM

Maqbul Arib

Abstract


Abstract;

Istilah pluralisme sendiri sesungguhnya adalah istilah lama yang hari-hari ini kian mendapatkan perhatian penuh dari semua orang. Dikatakan istilah lama karena perbincangan mengenai pluralitas telah dielaborasi secara lebih jauh oleh para pemikir filsafat Yunani secara konseptual dengan aneka ragam alternatif memecahkannya. Para pemikir tersebut mendefinisikan pluralitas secara berbeda-beda lengkap dengan beragam tawaran solusi menghadapi pluralitas. Pluralisme itu given, sementara konflik adalah sesuatu yang inhern di dalamnya. Pertanyaan selanjutnya bagaimana mengelola pluralitas dan konflik yang ada sehingga menjadi sebuah energi sosial bagi penciptaan tatanan bangsa yang lebih baik. Jawabannya tentu panjang dengan melibatkan pengkajian seluruh faktor yang ada. Akan tetapi terkait dengan kajian ini (memahami pluralitas), ternyata menjaga kerukunan tidak cukup hanya memahami keanekaragaman yang ada di sekitar kita secara apatis dan pasif. Memahami pluralisme seharusnya melibatkan sikap diri secara pluralis pula. Sebuah sikap penuh empati, jujur dan adil menempatkan bagaian, perbedaan pada tempatnya, yaitu dengan menghomati, memahami dan mengakui eksistensi orang lain, sebagaimana menghormati dan mengakui eksistensi diri sendiri. Oleh karena itu dengan memanfaatkan potensi yang ada dalam dunia yang plural seperti ini, maka model dakwah Islamiah akan lebih bermakna (meaningfull) jika dilakukan dengan melibatkan kerjasama dengan semua pihak termasuk mereka yang berada di luar Islam. Dengan demikian, pluralitas, keragaman atau kemajemukan yang telah menjadi keniscayaan ini dapat dimanfaatkan sebagai "energi sosial" guna mengawal dan menetralisir problematika umat manusia.

Kata Kunci:
Dakwah, Keragaman, Perbedaan

The term pluralism itself is actually the long term these days increasingly get the full attention of everyone. Said to be a long term because of the discussion of plurality is further elaborated by the thinkers of Greek philosophy is conceptually with a variety of alternatives to solve it. Thinkers are defining a plurality of differently complete with a variety of solutions to the plurality of bids. Pluralism was given, while the inherent conflict is something in it. The next question is how to manage plurality and conflicts that exist so that it becomes a social energy for the creation of the order of a better nation. The answer of course involves the assessment of the entire length of the existing factors. However, associated with this study (understanding plurality), turns out to maintain harmony is not enough just to understand the diversity that exists around us are apathetic and passive. Understanding pluralism should involve themselves in a pluralist attitude anyway. An empathetic attitude, honest and fair to put this part, the differences in place, namely with respect for, understanding and acknowledging the existence of others, as well as respect and acknowledge the existence of yourself. Therefore, by utilizing the potential that exists in a pluralistic world like this, then the model will be more meaningful Islamic da'wah (meaningfull) if done in cooperation with all parties involved, including those who are outside of Islam. Thus, plurality, diversity or pluralism that has become a necessity these can be used as a "social energy" to oversee and neutralize problems of mankind.

Keywords:
Da’wa, Diversity, Difference



DOI: https://doi.org/10.24252/jdt.v15i1.337

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal Dakwah Tabligh is indexed by

    

ISSN Print: 1412-7172 ISSN Online: 2549-662X

Jln. H. M. Yasin Limpo No. 36 Romangpolong, Samata, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
Email: jtabligh@uin-alauddin.ac.id

Creative Commons License