https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/kasyfulmurad/issue/feed KASYFUL MURAD: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir 2023-12-07T09:45:35+00:00 Muhammad Irham muhammad.irham@uin-alauddin.ac.id Open Journal Systems <p><strong><em>Kasyful Murad Journal of Al-Qur'an Studies and Tafsir</em> </strong>is a journal of the Postgraduate Masters Study Program at UIN Alauddin Makassar which was established on November 1, 2022. The aim of the establishment was to publish scientific papers and student theses as well as lecturers' scientific works related to Al-Qur'an Studies and Tafsir. The process of reviewing works through OJS pathways by prioritizing the use of Turnitin tools to avoid plagiarism and Mendeley for citation applications. This journal is managed by a group of professors in the field of Al-Qur'an and Interpretation Studies and a range of lecturers who are involved in the study of Al-Qur'an and Interpretation Studies.</p> <p>Kasyful Murad Jurnal Studi Al-Qur’an dan Tafsiradalah jurnal Prodi Magister Pascasarjana UIN Alauddin Makassar didirikan pada tanggal 1 November 2022. Tujuan pendirian untuk menerbitkan makalah-makalah ilmiyah dan tesis mahasiswa serta karya ilmiyah dosen terkait Studi Al-Qur'an dan Tafsir. Proses penelaahan karya melalui jalur-jalur OJS dengan mengedepankan pemanfaatn tools turnitin untuk menghindari plagiasi dan mendeley untuk aplikasi citasi. Jurnal ini dikelolah oleh sekelompok guru besar dalam bidang Studi Al-Qur'an dan Tafsir dan jajaran dosen yangberkecimpuang dalam kajian Studi Al-Qur'an dan Tafsir.&nbsp;&nbsp;</p> https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/kasyfulmurad/article/view/40609 Muatan Nilai Tradisi Mambatui yang Dilakukan Masyarakat Desa Tammerodo Utara Kec. Tammerodo Sendana Kab. Majene Analisis Tinjauan Al-Qur'an 2023-12-07T05:38:47+00:00 Mirsan Basri basrimirsan@gmail.com Achmad Abubakar achmad.abubakar@uin-alauddin.ac.id Halimah Basri halimah_basri@uin-alauddin.ac.id Muhammad Sadik Sabry shadiq.sabri@uin-alauddin.ac.id Andi Miswar andi.miswar@uin-alauddin.ac.id <p><span style="vertical-align: inherit;">Tradisi <em>mambatui</em> dilakukan sebagai bentuk balas budi atas jasa orang lain yang telah bersedia menyumbangkan waktu dan tenaganya tanpa mengharap upah atau imbalan. </span><span style="vertical-align: inherit;">Memberikan sesuatu kepada orang yang telah menolong bukanlah suatu kewajiban, namun bagi individu-individu di masyarakat Desa Tammerodo Utara hal tersebut merupakan suatu keharusan. </span><span style="vertical-align: inherit;">Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologis, anthropologis dan tafsir. </span><span style="vertical-align: inherit;">Di antara paradigma masyarakat Desa Tammerodo Utara dalam memandang tradisi <em>mambatui</em> adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan dan ucapan terima kasih kepada sesama manusia atas partisipasinya baik dari segi pengobatan tradisional maupun dari segi upacara-upacara adat yang lain. </span><span style="vertical-align: inherit;">Misalnya si Fulan mengadakan upacara adat dan tradisi tersebut dipandu oleh orang tertentu yang sudah dipercayakan, </span>setelah upacara adat selesai, si Fulan memberikan sesuatu kepada pemandu upacara adat tersebut, baik berupa barang maupun berupa amplop yang berisi uang, inilah yang disebut dengan mambatui. <span style="vertical-align: inherit;">Dari tradisi inilah yang akan dilakukan oleh makna dan kemudian menanganinya dengan menggunakan analisa Al Qur'an.</span></p> 2023-11-13T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2023 KASYFUL MURAD: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/kasyfulmurad/article/view/40746 Reinterpretasi Makna Tagut Pada Qs. An-Nisa[4]: 60 Studi Analisis Ma’na-Cum-Maghza 2023-12-07T05:47:43+00:00 Muh. Nasruddin A muhnasruddin385@gmail.com Mariani Marianiidris121299@gmail.com Akbar Haseng akbar@iainkendari.ac.id Amrullah Harun amrullahharun@iainpalopo.ac.id Rahmi Damis rahmi.damis@uin-alauddin.ac.id <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p>Say <em>ṭāgūt </em>&nbsp;in the Qur'an comes from the root word <em>ṭ</em><em>agā</em> be said <em>ṭagayūt</em> which then turned into <em>ṭāgūt </em>has various meanings depending on the context of the verse or verse <em>The micro and macro of the verse are both </em><em>sabāb nuzūl</em><em>. </em>This paper is a contextual study of the meaning of words <em>ṭāgūt </em>on QS. An-Nisā[4]: 60 in the form of a literature study research (library research) using the hermeneutical approach <em>ma’nā-cum-maghzā </em>theory. This study concludes that the word <em>ṭāgūt </em>in the Qur'an is interpreted as a devil, a witch, a shaman, Ka'ab Ibn Asyraf, an idol worshipper, something that is worshiped besides Allah, and everything that crosses the line in disobeying Allah. Meaning <em>ṭāgūt </em>is defined in QS. An- Nisā[4]: 60 by using theory <em>ma’nā-cum-maghzā</em>, specifically as follows:1) Linguistic analysis of the word <em>ṭāgūt </em>in QS. An- Nisā[4]: 60 is every leader who tries to go astray, leaders who point the wrong way, and is an expression of all those who transgress in disobedience to Allah. 2) QS micro-historical analysis An-Nisā[4]: 60 is that there is a distinction or disagreement between hypocrites and Jews. Meanwhile, from a macro perspective, after Islam developed rapidly and the Islamic community was strong in Medina, a group of hypocrites appeared who did not have a fixed position; they chose only for their personal interests. 3) The historical significance is about Muslim hypocrites who, when they want to be punished, will prefer to seek laws that come from people who are not right or people who accept bribes when they want to establish laws, while the contemporary dynamic is that Indonesia is not a terrorist country because its ideology, namely Pancasila, is in accordance with Islamic values.</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kata <em>ṭāgūt </em>di dalam Al-Qur’an berasal dari akar kata <em>ṭagā</em> menjadi kata <em>ṭagayūt</em> yang kemudian berubah menjadi <em>ṭāgūt </em><em>&nbsp;</em>memiliki beragam makna tergantung dari konteks ayat maupun <em>sabāb nuzūl</em> baik mikro maupun makro dari ayat tersebut. Tulisan ini merupakan kajian kontekstual mengenai makna kata <em>ṭāgūt </em>pada QS. An-Nisa[4]: 60 yang berupa penelitian studi pustaka <em>(library research) </em>dengan teori pendekatan hermeneutika <em>ma’nā-cum-maghzā</em>. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kata <em>ṭāgūt </em>dalam Al-Qur’an dimaknai dengan syaitan, penyihir, dukun, Ka’ab Ibn Asyraf, penyembah berhala, sesuatu yang disembah selain Allah dan segala sesuatu yang melewati batas dalam bermaksiat kepada Allah. Adapun makna <em>ṭāgūt </em>dalam QS. An-Nisa[4]: 60 dengan menggunakan teori <em>ma’nā-cum-maghzā </em>yaitu sebagai berikut: 1) Analisis linguistik dari kata <em>ṭāgūt </em>dalam QS. An-Nisa[4]: 60 adalah setiap kepala yang menjajak dalam kesesatan, pemimpin-pemimpin yang menunjukkan jalan yang salah dan merupakan sebuah ungkapan dari semua orang yang melampaui batas dalam bermaksiat kepada Allah. 2) Analisis historis mikro QS. An-Nisa[4]: 60 adalah adanya perbedaan atau perselisihan antara orang munafik dengan orang Yahudi. Sedangkan secara historis makronya adalah setelah Islam berkembang pesat dan masyarakat Islam yang kuat di Madinah, maka muncullah golongan orang munafik yang tidak memiliki pendirian yang tetap mereka memilih hanya untuk kepentingan pribadi saja. 3) Signifikansi historis adalah mengenai orang-orang munafik Islam yang ketika ingin berhukum mereka akan lebih memilih mencari hukum yang berasal dari orang-orang yang tidak tepat ataupun orang-orang yang menerima suap ketika ingin menetapkan hukum, sedangkan dinamis kontemporernya adalah Indonesia tidaklah termasuk negara <em>ṭāgūt&nbsp; </em>karena ideologinya yaitu pancasila sesuai dengan nilai-nilai Islam.</p> 2023-12-06T06:28:58+00:00 Copyright (c) 2023 KASYFUL MURAD: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/kasyfulmurad/article/view/40153 DIMENSI MISTIK AYAT KURSI DALAM KITAB Al-AUFÂQ PERSPEKTIF TAFSIR SUFISTIK 2023-12-07T06:10:00+00:00 Panggih Widodo 80600221029@uin-alauddin.ac.id Muhammad Irham muhammad.irham@uin-alauddin.ac.id Muhammad Rafiy Rahim muhammadrafiiy@uindatokarama.ac.id Aisyah Arsyad aisyah.arsyad@uin-alauddin.ac.id Muhammad Agus Muhammadagus123@gmail.com <p>Tulisan ini membahas tentang sisi mistik Ayat Kursi ketika digunakan sebagai jimat dengan berbagai macam khasiat pada kitab al-Aufāq dengan kacamata tafsir sufistik. Jenis yang penulis gunakan untuk penelitian yaitu berjenis pustaka dengan menggunakan berbagai sumber pustaka yang terdiri dari sumber utama(primer) dan sumber pendukung(skunder). Metode yang penulis pilih adalah deskriptif kualitatif dengan memilih dan memilah berbagai data pustaka yang telah dikumpulkan. Kemudian menganalisisnya untuk mendapatkan data yang sesuai dengan tema penelitian ini.</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hasil penelitian ini menunjukkan <em>pertama</em>, penamaan Ayat Kursi didasarkan pada sisi keagungan hal-hal yang dibahas dalam ayat tersebut yang menunjukkan keagungan dan kekuasaan Allah Swt. serta karena adanya kata <em>kursy</em> di dalamnya. <em>Kedua</em>, ayat tersebut apabila dilihat dari beberapa penafsiran sufistik, maka terlihat dimensi mistik yang terkandung di dalamnya yang meliputi keagungan dzat Allah Swt., kemutlakan kekuasaan-Nya dan isyarat bahwa semua makhluk wajib bergantung kepada-Nya dalam setiap urusan. <em>Ketiga</em>, dimensi mistik Ayat Kursi semakin terlihat ketika digunakan sebagai jimat untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam kitab al-Aufāq dengan mengambil aspek magis khasiatnya dan dihubungkan dengan inti makna dari penafsiran sufistik ayat.</p> <p>Kata Kunci: Ayat Kursi, Tafsir Sufistik, Kitab Al-Aufāq</p> 2023-12-07T05:56:56+00:00 Copyright (c) 2023 KASYFUL MURAD: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/kasyfulmurad/article/view/41049 Al-Su’āl Perspektif Al-Qur’an (Suatu Kajian Al-Su’āl dalam Ilmu Tafsir) 2023-12-07T06:34:21+00:00 Abdul Latif latifjamaluddin.1217@gmail.com Sohrah Sohrah.uinalauddin@gmail.com Mardan mardan@uin-alauddin.ac.id Zakir Husain zakir.husain@unissa.edu.bn Khaerul Asfar khaerulasfar@iaingorontalo.ac.id <p><strong>Abstract</strong></p> <p>This paper discusses the concept of Al-Su'āl in al-Qur'an al-Karim. The type that the author uses for research is a type of library using various library sources consisting of primary sources (primary) and supporting sources (secondary). The method that the writer chose was descriptive qualitative by selecting and sorting the various library data that had been collected. Then analyze it to get data that fits the theme of this research. The results of this study show first, the nature of the meaning of the word Al-Su'āl &nbsp;in general and its derivation in the Qur'an. Second, the verse that talks about the word Al-Su'āl found various forms of problems ranging from friends, polytheists and Jews. Third, the urgency of Al-Su'āl in the Koran which includes various results such as obligations that must be obeyed so that Al-Su'āl can be processed properly.</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Tulisan ini membahas tentang konsep Al-Su'āl dalam al-Qur’an al-Karim. Jenis yang penulis gunakan untuk penelitian yaitu berjenis pustaka dengan menggunakan berbagai sumber pustaka yang terdiri dari sumber utama (primer) dan sumber pendukung (skunder). Metode yang penulis pilih adalah deskriptif kualitatif dengan memilih dan memilah berbagai data pustaka yang telah dikumpulkan. Kemudian menganalisisnya untuk mendapatkan data yang sesuai dengan tema penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan pertama, hakikat pemaknaan kata Al-Su'āl secara umum serta derivikasinya dalam al-Qur’an. Kedua, ayat yang membicarakan tentang kata Al-Su'āl tersebut ditemukanlah berbagai wujud persoalan-persoalan mulai dari para sahabat, orang musyrik serta orang yahudi. Ketiga, urgensi Al-Su'āl dalam al-Qur’an yang mencakup berbagai hasil seperti kewajiban-kewajiban yang harus ditaati sehingga dapat&nbsp; mengolah <em>Al-Su’āl </em>dengan baik.</p> 2023-12-07T06:14:01+00:00 Copyright (c) 2023 KASYFUL MURAD: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/kasyfulmurad/article/view/40812 KENABIAN MARYAM DALAM TAFSIR AL-MISBAH DAN TAFSIR AL-AZHAR (STUDI KOMPARATIF TERHADAP QS. ALI IMRAN AYAT 42) 2023-12-07T09:45:35+00:00 Andi Mujahidil Ilman SM SM muh.awaluddin1203@gmail.com Muh. Awaluddin A muh.awaluddin1203@gmail.com Muhammad Hasan h.muhammad.h98@gmail.com Muhsin Mahfudz muhsinmahfudz@uin-alauddin.ac.id Fuad Fansuri fudenisti@gmail.com Abdul Ghany abdul.ghany@uin-alauddin.ac.id <p>Kenabian merupakan salah satu hal yang prinsipil dalam agama Islam, termasuk didalamnya adalah isu kenabian perempuan. Isu ini menggeliat dalam dunia tafsir, kemudian direspon oleh para ulama dan menghasilkan dua sikap, ada ulama yang mendukung isu tersebut dan ada yang menolaknya, masing-masing kedua kubu tersebut memiliki argumentasi. penelitian ini akan membahas masalah seputar eksistensi isu kenabian perempuan ini dalam tradisi intelektual ulama Islam, kemudian eksistensi isu kenabian Maryam dalam tafsir al-misbah dan tafsir al-azhar, dan alasan isu ini bisa sampai dan diakomodir oleh kedua mufassir indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah <em>Pertama,</em> terdapat dua kubu dalam merespon isu kenabian perempuan, ada yang menolak dan ada yang menerima. Adapun yang menolak adalah Abu Muhammad Abdullah bin Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah bin Ja’far al-Ashili, Fakhruddin al-Razi, Ibn Katsir, serta al-Qusyairi. Sedangkan yang menerima adalah Abu Bakar Muhammad bin Mawhab al-Tujibi al-Qabri, Ibn Hazm al-Andalusi, Al-Qurthubi, serta Ibn Hajar al-‘Asqalani dengan argumentasi masing-masing. <em>Kedua, </em>isu kenabian Maryam terdapat dalam tafsir al-misbah dan tafsir al-azhar ketika membahas Qs. Ali-Imran: 42. <em>Ketiga, </em>terdapat dua alasan mengapa isu kenabian Maryam diakomodir dalam tafsir al-misbah dan tafsir al-azhar, <em>pertama, </em>kedua pengarang dari tafsir tersebut yaitu Quraish Shihab dan Hamka masing-masing mengusung spirit <em>gender equality. Kedua, </em>karena sifat dari tafsir itu sendiri yang genealogis sehingga sebuah wacana yang masuk dalam dunia tafsir sulit untuk dihapuskan dan dihilangkan.</p> 2023-12-07T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2023 KASYFUL MURAD: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir