Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rihlah <p>RIHLAH: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan (ISSN 23439-0921 and E-ISSN 2580-5762)&nbsp; is peer-reviewed journal published biannually by Department of History and Islamic Civilization Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. The journal is accredited based on the decree No. 14/E/KPT/2019 on 10 May 2019 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for Vol 5 No. 1 2017 to Vol 9 No. 2 2022 (SINTA 5). The journal emphasizes on aspects related to history and culture. We welcome contributions from scholars in the field. Selected papers are written in Indonesia or English</p> <p><img src="/public/site/images/chaerul/Sampul_RIHLAH1.jpg" alt=""></p> en-US <p>Once an article was published in the journal, th<em>e </em>author(s) are:</p><ul><li>granted to the journal right licensed under <a title="License" href="https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/" target="_blank">Creative Commons License Attribution</a> that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship.</li><li>permitted to publish their work online in third parties as it can lead wider dissemination of the work.</li><li>continue to be the copyright owner and allow the journal to publish the article with the CC BY-NC-SA license</li><li>receiving a DOI (Digital Object Identifier) of the work.</li></ul><p> </p><div class="separator"> </div> rihlahjurnal@gmail.com (Chaerul Mundzir) rihlahjurnal@gmail.com (Abu Haif) Thu, 30 Dec 2021 15:19:46 +0000 OJS 3.1.2.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 PERAN STRATEGIS MESIR DALAM MEMPERTAHANKAN IDENTITAS BUDAYA DAN BAHASA ARAB (KAJIAN BUDAYA ARAB) https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/view/25301 <p>This article aims to examine Egypt's strategic role in maintaining Arabic cultural and linguistic identity. Egypt as the center of Arab League activity certainly has its own privileges in maintaining the existence of Arabic culture and language in the era of globalization which is growing very rapidly. This research is a library research that uses a qualitative descriptive method. The results of this study indicate that Egypt has great potential in strengthening Arabic cultural and linguistic identity in the eyes of the international community. Egypt's geographical location in the middle of the Arab world makes it a meeting point between the Arab East and West Arabia. Egypt's long history from the past until now shows that the Egyptian Arab identity has never faded since the entry of Islam in the 7th century AD. Arabic culture and language are the main factors in the Arab world in establishing unity among its members. The potential advantages of Arabic language and culture in Egypt (literature, science, information media, music, etc.) will contribute to the existence of Arab culture on the world stage.</p><p class="IsiAbstractBahasaInggris">Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran strategis Mesir dalam mempertahankan identitas budaya dan bahasa Arab. Mesir sebagai pusat aktivitas Liga Arab tentunya memiliki keistimewaan tersendiri dalam mejaga eksistensi budaya dan bahasa Arab di tengah era globalisasi yang kian berkembang dengan sangat cepat. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Mesir memiliki potensi besar dalam mempekuat identitas kebudayaan dan bahasa Arab di mata internasional. Letak geografis Mesir yang berada di tengah-tengah dunia Arab menjadikannya titik temu antara wilayah Arab Timur dan Arab Barat. Sejarah panjang yang dilalui Mesir dari dulu hingga kini menunjukkan bahwa identitas Arab Mesir tidak pernah pudar sejak masuknya Islam pada abad ke-7 M. Kebudayaan dan bahasa Arab menjadi faktor utama dunia Arab dalam menjalin kesatuan antar anggotanya. Keunggulan potensi bahasa dan budaya Arab di Mesir (sastra, ilmu pengetahuan, media informasi, musik, dll) akan memberikan kontribusi eksistensi kebudayaan Arab di kancah dunia.</p> Mohammad Setyawan Copyright (c) 2021 Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/view/25301 Thu, 30 Dec 2021 15:19:43 +0000 PEREKONOMIAN MASYARAKAT ONDER AFDEELING MOESI OELOE TAHUN 1900-1942 https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/view/23250 <p><em>Saat memasuki masa politik open the door policy (politik pintu terbuka), ini membuka kran swastanisasi perkebunan dan pertanian seluas-luasnya. Daerah Moesi Oeloe muncul sebagai salah satu daerah penghasil ekonomi masa kolonial Belanda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana keadaan Onder Afdeeling Moesi Oeloe pada masa kolonial, bagaimana keadaan masyarakat dan kependudukan Onder Afdeeling Moesi Oeloe pada masa kolonial, serta bagaimana sejarah perkebunan dan pertanian di Onder Afdeeling Moesi Oeloe sebagai pendongkrak ekonomi di uluan Palembang. Metode penelitian yang digunakan ialah metode sejarah, dengan tahapan: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Onder Afdeeling Moesi Oeloe menjadi salah satu wilayah kekuasaan Belanda di bawah pemerintahan Residentie Palembang di uluan. Masyarakat awalnya berasal dari daerah Rejang yang telah memiliki budaya sendiri setelah pergi ke luar daerah Rejang dengan menuruni dataran tinggi menuju sungai-sungai seperti Kelingi, Lakitan, dan Beliti. Pada saat kolonial Belanda menempatkan Musi Ulu sebagai daerah penghasil ekonomi, beberapa aspek vital seperti perkebunan dan pertanian menjadi fokus pemerintah untuk mengeksploitasinya. Diantaranya perkebunan karet di Belalau dan di Temam, perkebunan kelapa sawit di Taba Pingin, kemudian pertanian di Tugumulyo.</em></p> Berlian Susetyo, Ravico Ravico Copyright (c) 2021 Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/view/23250 Thu, 30 Dec 2021 15:19:43 +0000 Setelah Mongol: Osman Gazi dan Kepemimpinan Muslim di Anatolia abad ke-14 https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/view/23951 <p>Abad ke-13 menjadi masa yang penting bagi Temujin atau Jengis Khan. Setelah dinobatkan menjadi pemimpin Mongol, dia terus melakukan ekspansi dari Asia Tengah, Anatolia, Eurasia hingga berada di depan gerbang Vienna. Abad ke-13 dapat dikatakan sebagai ‘Periode Mongol’ karena Mongol menjadi imperium dunia yang sangat berpengaruh. Ekspansi Mongol telah menghancurkan para penguasa lama, seperti Abasiyah dan Seljuk Agung. Para pasukan nomaden Turki atau <em>beylik</em> yang selama ini membantu Seljuk kemudian hidup berpencar menghindari ppersekusi Mongol. Setelah kekuasaan Mongol meredup, banyak penguasa <em>beylik </em>Turki mulai muncul sebagai penguasa yang independen. Di Anatolia, para bey dengan <em>beylik</em>-nya menciptakan kekuasaan baru. Osman Gazi (1302-1324), pendiri Negara Usmani, merupakan salah satu penguasa Anatolia yang muncul pasca invasi Mongol. Dalam artikel ini, penulis membahas mengenai bagaimana kepemimpinan Muslim di Anatolia pasca periode Mongol. Dengan demikian, penulis akan melihat kebangkitan Osman Gazi sebagai studi kasus terhadap kebangkitan penguasa Muslim di Anatolia.</p> Frial Ramadhan Supratman Copyright (c) 2021 Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/view/23951 Thu, 30 Dec 2021 15:19:44 +0000 Administrative law and intellectual movement in the reign of Sultan Alauddin Mansur Shah of the 16th century in Aceh https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/view/22261 <p><em>Sultanate of Aceh is recognized as one of the most important Malay-Muslim kingdom of the past, especially after the fall of the Malacca Sultanate in the 16th century AD. From a large number of its rulers, Aceh was ruled by a king's daughter who came from abroad. One of them was Sultan Alauddin Mansur Shah who hails from Perak located on the Malay Peninsula. But to be presented in this paper is not about the origins of his coming from the state, but rather a contribution to the development of Aceh, especially in the field of knowledge. The study is based on qualitative methods, using data from the writing of the history of Aceh are then analyzed to assess and justify his stature. What can be summed up is that his services as one of the important figures in nurturing the culture of knowledge and religious teachings cannot be ignored. It is very important if more research on it is done in the future in line with the efforts to excavate the treasures of the past so that the historical aspect is always fresh with positive values.</em></p> KHAIRUL NIZAM BIN ZAINAL BADRI Copyright (c) 2021 Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/view/22261 Thu, 30 Dec 2021 15:19:45 +0000 Institusi-institusi Pendidikan dan Transmisi Ilmu: Masjid, Madrasah, dan Lembaga Pendidikan https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/view/25877 <p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p><em>Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui institusi-institusi pendidikan Islam yang muncul dan berkembang dalam membangun peradaban Islam yang maju dalam bidang keilmuan. Hal ini menjadikan institusi pendidikan Islam sebagai sarana berlangsungnya proses transmisi ilmu di dalamnya yang telah berjalan dari waktu ke waktu. Perkembangan institusi pendidikan Islam ini </em><em>telah menunjukkan eksistensinya </em><em>dari masa Nabi Muhammad SAW yang dimulai dari institusi pra Madrasah yakni salah satunya masjid sebagai pusat transmisi Ilmu kala itu, hingga berkembang pesat menjadi madrasah dan lembaga pendidikan Islam yang banyak bermunculan. Transmisi ilmu dalam institusi pendidikan telah membangun peradaban Islam menjadi tumbuh, berkembang dan maju seperti sekarang ini. </em></p><p>Kata Kunci: Institusi Pendidikan Islam, Transmisi Ilmu, Masjid, Madrasah, Lembaga Pendidikan</p><p> </p><p align="center"><strong>Abstract</strong></p><p><em>This paper aims to find out Islamic educational institutions that have emerged and developed in building an advanced Islamic civilization in the field of science. This makes Islamic educational institutions as a means of transmitting knowledge in it which has been running from time to time. The development of this Islamic educational institution has existed since the time of the Prophet Muhammad, which began with pre-madrasa institutions, one of which was the mosque as a center for the transmission of knowledge at that time, until it developed rapidly into madrasas and Islamic.educational.institutions that have sprung up. The transmission of knowledge in educational institutions has built Islamic civilization to grow, develop and advance as it is today.</em></p><p> </p><p> </p><p> </p><p> </p> Aminatul Mahmudah Copyright (c) 2021 Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/view/25877 Thu, 30 Dec 2021 15:19:45 +0000