Navigating Marriage Dispensation in Indonesia
Marriage Age, Judicial Discretion, and Legal Culture through Friedman’s Theory
DOI:
https://doi.org/10.24252/shautuna.v7i3.71596Keywords:
Marriage Dispensation, Child Marriage, Friedman’s Legal System Theory, Marriage Law, Socio-LegalAbstract
The increase in Indonesia’s minimum marriage age under Law No. 16 of 2019 was intended to strengthen child-marriage prevention. However, the marriage-dispensation mechanism under Article 7(2) creates an exception whose application may complicate the achievement of this objective. Previous studies have documented the increasing number of marriage-dispensation applications but have paid less attention to how legal norms, judicial practices, and socio-cultural pressures interact in shaping judicial decisions. This study examines how these dimensions influence marriage-dispensation practices in Indonesia. Using a socio-legal approach, the study analyzes 19 marriage-dispensation decisions recorded in the Supreme Court Decision Directory between 2023 and 2026 through Lawrence M. Friedman’s legal system theory, encompassing legal substance, legal structure, and legal culture. The findings reveal three interconnected patterns. First, the statutory requirement of “very urgent reasons” under Article 7(2) lacks sufficiently specific and measurable criteria, leaving considerable interpretive space for judges. Second, judicial decisions demonstrate substantial reliance on judicial discretion in determining urgency, with all 19 cases in the sample being granted. Third, legal culture significantly shapes judicial reasoning, particularly through concerns about zina, social stigma, family shame, and community expectations. The study’s novelty lies in demonstrating how gaps in legal substance are mediated by judicial discretion and reinforced by legal-cultural considerations, thereby producing a recurring pattern of marriage-dispensation approval. The findings highlight the importance of clearer standards for assessing urgency while recognizing the socio-cultural context of judicial decision-making.
References
Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Mahkamah Agung RI. Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Kawin.
Alghifari, A., Nuzha, N., & Nur, D. U. H. (2021). Efektivitas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perkawinan Dalam Menurunkan Angka Pernikahan Usia Dini Di Kabupaten Polewali Mandar. QISTHOSIA: Jurnal Syariah Dan Hukum, 2(2), 121–140.
Hanafi, S. (2024). Legal Politics of Changes to Marriage Laws in Indonesia. Al-Qadha: Jurnal Hukum Islam Dan Perundang-Undangan, 11(1), 76.
Jumriati, J., & Rumalutur, H. A. (2022). Dispensasi Perkawinan Di Bawah Umur. Jurnal Hukum Muadalah, 2(2), 124–135.
Kafidhoh, S., et al. (2024). Dynamics of legal politics regarding marriage age limits in Indonesia: Between religious norms and social change. Jurnal Hukum Islam, 22(2), 410.
Khairunisa, A., & Winanti, A. (2021). Batasan Usia Dewasa Dalam Melaksanakan Perkawinan Studi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019. Justitia: Jurnal Ilmu Hukum Dan Humaniora, 8(4), 774–784.
Retnowulandari, W., et al. (2024). The Prevalence Of Child Marriage: Comparitive Study Of Indonesia And Other South Asian States. Jambura Law Review, 6(2), 340.
Rismana, D., et al. (2024). The Controversy on the Minimum Age for Marriage in Indonesia: Factors and Implications. Journal of Sustainable Development and Regulatory Issues (JSDERI), 2(1), 53–59.
Sukmayadi, R., & Suyitno, S. (2022). Kontribusi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Budaya Tradisi Macanan Dan Kawin Cai Untuk Menguatkan Identitas Nasional Indonesia. Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan.
Supraptiningsih, U. (2021). Pro and Cons Contestation on The Increase of Marriage Age in Indonesia. Samarah: Jurnal Hukum Keluarga Dan Hukum Islam, 5(1), 241.
Tanjung, A. (2025). Peran dan Diskresi Hakim Pengadilan Agama dalam Menangani Permohonan Dispensasi Kawin: Studi Socio-Legal atas Praktik Hukum dan Budaya Lokal. Prosiding Hukum Keluarga Islam, 200–201.
Zubaidah, S., et al. (2022). Analisis Penentuan Dispensasi Pernikahan Pada Pengadilan Agama Di Kalimantan Selatan. Anterior Jurnal, 21(3), 2.
Zulaiha, E., & Mutaqin, A. Z. (2021). The Problems of The Marriage Age Changing in Indonesia in the Perspectives of Muslim Jurists and Gender Equality. Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama, 4(2), 101.
Harvey, C. M., et al. (2022). Konsepsi Pranikah sebagai Pendorong Pernikahan Anak dan Pernikahan Dini di Beberapa Negara di Asia Tenggara dan Pasifik. Jurnal Kesehatan Remaja, 70(3), S43–46.
Interpretation of Marriage Law Determination: An Analysis Study of the Adult Age of Marriage in Indonesia. (2025). Law and World, 11(2), 98.
Muthengi, E., Muthoni, L., & Austrian, K. (2022). Membandingkan Hubungan Hidup Bersama dan Pernikahan Resmi di Kalangan Remaja Putri di Zambia. Jurnal Kesehatan Remaja, 70(3), S47–53.
Paul, P., Closson, K., & Raj, A. (2023). Apakah Keterlibatan Orang Tua Berkaitan dengan Penundaan Pernikahan dan Pilihan Pernikahan Remaja Perempuan? Bukti dari Survei UDAYA. SSM - Kesehatan Populasi.
Singh, M., Shekhar, C., & Shri, N. (2023). Pola Usia Pernikahan Pertama dan Faktor Penentunya di India. SSM - Kesehatan Populasi.
Straiton, M., et al. (2022). Gangguan Kesehatan Mental Populasi dan Pembentukan Pernikahan Pertama di Kalangan Perempuan Migran Non-Barat. SSM - Kesehatan Populasi.
Kementerian Agama RI. (2025). Data Statistik Pernikahan Anak di Indonesia 2020-2025 [Postingan Instagram]. Diakses dari https://www.instagram.com/p/DUmXgAyD3RY/
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Nor Hasanah, Ayu Listia Arifin, Irma Nur Hayati, Hafizh Idri Purbajati, Muhaiminah Darajat

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.







