LINGUISTIK GENDER DALAM BAHASA ARAB: DOMINASI MASKULIN DAN KONSTRUKSI SOSIAL
DOI:
https://doi.org/10.24252/sipakalebbi.v10i1.67924Keywords:
Kesetaraan GenderAbstract
This study aims to examine the grammatical gender system in Arabic morphology, particularly the distinction between masculine (mudzakkar) and feminine (muannats) forms, and its impact on the social construction of Arab society. As a purely inflected language, Arabic classifies every noun, verb, and pronoun into two gender categories without providing a neuter form. This study uses a qualitative approach with descriptive methods on both classical and modern linguistic texts. The findings indicate that the dominance of masculine forms in plural use reflects a patriarchal pattern that influences how Arab society understands gender relations. Furthermore, this study reveals that the morphological gender system functions not only as a linguistic marker but also as an ideological tool that reproduces social relations and reinforces the construction of gender identity. The grammatical structure of Arabic places the masculine as the default form in communication, so that women are often represented in a subordinate manner. The implications of these results emphasize the need for a critical reading of language as a cultural instrument that shapes social perceptions. The conclusion of the study emphasizes that language is not merely a means of communication but also a medium that plays a role in building and maintaining social structures, especially in the context of gender relations.
Kajian ini bertujuan menelaah sistem gramatikal gender dalam morfologi bahasa Arab, khususnya pembedaan antara bentuk maskulin (mudzakkar) dan feminin (muannats), serta dampaknya terhadap konstruksi sosial masyarakat Arab. Sebagai bahasa fleksi murni, bahasa Arab mengklasifikasikan setiap nomina, verba, dan pronomina ke dalam dua kategori gender tanpa menyediakan bentuk netral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif terhadap teks linguistik klasik maupun modern. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dengan menelaah bentuk-bentuk morfologi gender serta makna sosial yang terkandung di dalamnya. Temuan menunjukkan bahwa dominasi bentuk maskulin dalam penggunaan jamak mencerminkan pola patriarki yang memengaruhi cara masyarakat Arab memahami relasi gender. Selain itu, penelitian ini mengungkap bahwa sistem morfologi gender tidak hanya berfungsi sebagai penanda linguistik, tetapi juga sebagai perangkat ideologis yang mereproduksi relasi sosial dan memperkuat konstruksi identitas gender. Struktur gramatikal bahasa Arab menempatkan maskulin sebagai bentuk default dalam komunikasi, sehingga perempuan kerap direpresentasikan secara subordinatif. Implikasi dari hasil ini menegaskan perlunya pembacaan kritis terhadap bahasa sebagai instrumen budaya yang membentuk persepsi sosial. Kesimpulan penelitian menekankan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga medium yang berperan dalam membangun dan mempertahankan struktur sosial, terutama dalam konteks relasi gender.
Downloads
References
Abu Zayd, Nasr Hamid. (2003). Rethinking the Qur’an: Towards a Humanistic Hermeneutics. Utrecht: Humanistics University Press.
Abu-Lughod, L. (1998). Remaking women: Feminism and modernity in the Middle East. Princeton University Press.
Al-Wer, E. (2011). Language and gender in Arabic. Dalam S. Weninger, G. Khan, M. P. Streck, & J. C. E. Watson (Eds.), The Semitic languages: An international handbook (pp. 762–774). De Gruyter Mouton.
Badran, M. (2009). Feminism in Islam: Secular and religious convergences. Oneworld Publications.
Barlas, Asma. (2002). Believing Women in Islam: Unreading Patriarchal Interpretations of the Qur’an. Austin: University of Texas Press.
Cameron, D. (1992). Feminism and linguistic theory (2nd ed.). Macmillan.
Fahrullah. (2020). Morfologi gender dalam bahasa Arab dan implikasinya terhadap pembelajaran nahwu. Jurnal Bahasa Arab dan Pendidikan Bahasa Arab, 11(2), 145–158.
Fairclough, N. (1989). Language and power. Longman.
Foucault, M. (1972). The archaeology of knowledge (A. M. Sheridan Smith, Trans.). Pantheon Books.
Ghulayaini, M. (1973). Jāmi‘ al-durūs al-‘Arabiyyah (Vols. 1–3). Al-Maktabah Al-‘Ashriyyah.
Haywood, J. A., & Nahmad, H. M. (1993). A new Arabic grammar of the written language (5th ed.). Lund Humphries.
Hidayah, Husnul., Yusuf, M., & Alwi, Besse Marjani. (2020). Implementasi pola asuh orangtua dalam menanamkan nilai moral anak usia dini. Nanaeke: Indonesian Journal of Early Childhood Education, 3(2), 70–79. doi:10.24252/nananeke.v3i2.17469
Hidayatullah, Syarif. (2010). Teologi Feminisme Islam. Jakarta: Pustaka Pelajar.
Holes, C. (2004). Modern Arabic: Structures, functions, and varieties (Revised ed.). Georgetown University Press.
Holmes, J. (2013). An introduction to sociolinguistics (4th ed.). Routledge.
Lakoff, R. (1975). Language and woman's place. Harper & Row.
Maloko, Thahir. (2020). Kedudukan perempuan sebagai saksi dalam Islam. Jurnal Sipakalebbi: Jurnal Gender dan Anak, 4(2), 425–432.
Mills, S. (2008). Language and sexism. Cambridge University Press.
Muthahhari, Murtadha. (1995). Hak-hak wanita dalam Islam (Terjemahan oleh M. Hashem). Bandung: Pustaka.
Omar, Asma. (2015). Gender bias in Arabic morphology: A sociolinguistic perspective. Journal of Arabic Linguistics, 12(1), 45–62.
Rahman, Aisyah. (2019). Analisis tafsir feminis terhadap representasi gender dalam Al-Qur’an. Disertasi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga.
Ryding, K. C. (2005). A reference grammar of modern standard Arabic. Cambridge University Press.
Suleiman, Y. (2004). A war of words: Language and conflict in the Middle East. Cambridge University Press.
