Strategi Pelestarian Kawasan Cagar Budaya dengan Pendekatan Revitalisasi

  • Andi Hildayanti Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
    (ID)

Abstract

Abstrak_ Bangunan cagar budaya pada dasarnya merupakan suatu artefak kota (urban artifact). Bangunan cagar budaya sudah selayaknya dilestarikan karena merupakan asset daerah yang dilindungi oleh hukum perundang- undangan. Pada beberapa kasus, banyak diantara objek bangunan cagar budaya sudah tidak difungsikan lagi sehingga menurunkan kualitas bangunan tersebut. Berbagai permasalahan mulai bermunculan seperti pelapukan, rerumputan yang tumbuh liar, dan beberapa kerusakan kecil lainnya pada bangunan. Jika hal tersebut tetap dibiarkan maka akan berdampak buruk bagi kelangsungan bangunan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengulas eksistensi bangunan cagar budaya di Kota Makassar tepatnya pada kawasan Benteng Somba Opu dengan segala permasalahannya dan merumuskan strategi-strategi pelestarian agar bangunan cagar budaya dapat mempertahankan eksistensinya tanpa mengurangi kualitas bangunan itu sendiri melalui pendekatan revitalisasi. Dengan menggunakan metode eksploratif dengan pertimbangan pengamatan analisis SWOT maka ditemukan beberapa strategi pelestarian yang dinilai mampu mengoptimalkan fungsi dan eksistensi bangunan cagar budaya tersebut, diantaranya mengembalikan keadaan bangunan yang mengalami kerusakan pada keadaan awal. Menggantikan material yang rusak atau hilang dengan material yang baru atau sejenis. Melakukan tindakan pemeliharaan berkala agar terhindar dari kerusakan yang lebih parah. Serta melakukan adaptasi yaitu segala upaya untuk mengubah bangunan tersebut agar dapat digunakan untuk fungsi yang sesuai. Karena pada dasarnya konservasi arsitektur merupakan proses daur ulang sebuah bangunan dalam upaya melestarikan sumber daya tempat tersebut demi keberlangsungan eksistensinya.

Kata kunci : Konservasi; Revitalisasi ; Cagar budaya; Pelestarian; Artefak kota; Benteng Somba Opu.

 

Abstract_ Cultural heritage building is basically an urban artifact. So it must be preserved because they are regional assets that are protected by national law. In some cases, many cultural heritage buildings no longer function, thereby reducing the quality of the building. Various problems began to emerge such as weathering, growing weeds, and the other minor damage to the building. If it is still left then it will have a negative impact on building survival. Therefore, this study will review the existence of cultural heritage buildings in Makassar City with all its problems and formulate conservation strategies till cultural heritage buildings can maintain their existence without reducing the quality of the building itself through revitalization approaches. By using an exploratory method with consideration of observing the SWOT analysis, several conservation strategies were found to be able to optimize the function and existence of the cultural heritage building, including restoring the damaged buildings to the initial state. Replace damaged or lost material with new or similar material. Perform periodic maintenance measures to avoid further damage. And adaptation is all efforts to change the building so that it can be used for the appropriate function. Because basically the conservation of architecture is the process of recycling a building in an effort to preserve the place resources for the sake of its continued existence.

Keywords :  Conservation; Revitalization; Cultural heritage; Preservation; Urban artifacts; Fort Somba Opu.

 

References

Amalia, A. (2014). Karakteristik Arsitektur Rumah Adat Wajo Di Kompleks Miniatur Budaya Sulawesi Selatan Benteng Sombaopu Makassar. Teknosains: Media Informasi Sains Dan Teknologi, 8(2), 227-240.

Groat, L. & Wang, D. (2002). Architectural Research Methods. New York: John Wiley & Sons. Inc.

Hildayanti, Andi. "Pola Pergerakan Wisatawan pada Kawasan Pariwisata Pantai Kota Makassar." Jurnal Koridor 10.1 (2019): 27-34.

Hildayanti, Andi & Wasilah. (2017). Karakteristik Benteng Fort Rotterdam sebagai Urban Artefact Kota Makassar. Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017.

Hildayanti, A., Suriadi, N. A., & Santosa, H. R. (2014). Analysis of housing areas with a sustainable community approach. Int. J. Sci. Eng. Res, 5, 1511-1517.

Lynch, K. (1979). Image Of The City. Cambrigde : The Massachusetts Institut of Technology Press.

Marwati, M., & Andriani, S. (2017). TIPOLOGI BUKAAN PADA RUMAH TRADISIONAL BUGIS DI BENTENG SOMBA OPU MAKASSAR. Nature: National Academic Journal of Architecture, 4(2), 107-120.

Sidharta, E.B. (2000). Konservasi Lingkungan dan Bangunan Kuno Bersejarah di Surakarta. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Sudarwani, M. M., & Eni, S. P. (2019). Revitalisasi Kawasan Benteng Somba Opu Sebagai Kawasan Bersejarah Peninggalan Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan.

Tika, Z. dkk. (2013). Makassar Tempo Doeloe. Makassar: Kantor Arsip, Perpustakaan dan Pengolahan Data Pemerintah Kota Makassar bekerjasama dengan Lembaga Kajian dan Penulisan Sejarah Budaya Sulawesi Selatan.

Trancik, R. (1986). Finding Lost Space, Theories of urband design. New York: Van Nostrand Reindhold Co.

Wasilah, Wasilah. "Transformation Form in Banua Layuk Mamasa Based on Linguistic Analogy." (2019): 1-10.

Wasilah, Andi Hildayanti. "Sistem Struktur Tiang Bengkok Pada Rumah Suku Kajang Bulukumba."

Published
2020-07-01
How to Cite
Hildayanti, A. (2020). Strategi Pelestarian Kawasan Cagar Budaya dengan Pendekatan Revitalisasi. TIMPALAJA : Architecture Student Journals, 2(1), 72-82. https://doi.org/10.24252/timpalaja.v2i1a9
Section
ARTICLE
Abstract viewed = 1847 times