Integrasi Prinsip Eco-Sufisme dan Kearifan Lokal Papua dalam Membangun Kesadaran Ekoteologis
Keywords:
Eco-Sufism, Papuan Local Wisdom, Ecotheological Awareness, Ethno-ecology, Ecological SpiritualityAbstract
This study aims to analyze the integration of the principles of Eco-Sufism—a spiritual-ecological approach within Islam—with Papua's local wisdom as a foundation for building eco-theological awareness. The research stems from two main issues: the global ecological crisis requires a value-based and spiritual response, and the unexplored synergistic potential between Islamic spirituality and the ecological wisdom of Papua's indigenous communities. The method employed is qualitative with a philosophical-hermeneutic approach to reading and dialoguing Sufistic texts with Papua's ethno-ecology. Data were collected through in-depth literature review, participatory observation of local practices, and interviews with community leaders, religious scholars, and environmental activists in Papua. The findings indicate that Eco-Sufism emphasizes the concept of ecological tawhid (oneness), viewing nature as God's signs ( ayat kauniyah) that must be preserved, while Papuan local wisdom regards nature as a living and animate subject, not merely an object. The common ground between them lies in a relational-sacred paradigm towards nature. This integration gives rise to a holistic framework of eco-theological awareness, where respect for ancestors, customary rituals, and Islamic spirituality converge in an earth stewardship ethic. The study concludes that synthesizing Eco-Sufism and Papuan local wisdom can form a powerful epistemological and pedagogical foundation for environmental education, conservation policies, and eco-spiritual movements in Indonesia, offering solutions that are contextual, transformative, and rooted in cultural-spiritual values.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi prinsip-prinsip Eco-Sufisme, sebuah pendekatan spiritual-ekologis dalam Islam dengan kearifan lokal Papua sebagai landasan untuk membangun kesadaran ekoteologis. Penelitian ini berangkat dari dua masalah utama yaitu krisis ekologis global membutuhkan respons berbasis nilai dan spiritual, dan potensi sinergi belum tergali antara spiritualitas Islam dan kearifan ekologis masyarakat adat Papua. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan filosofis-hermeneutik untuk membaca dan mendialogkan teks-teks Sufistik dengan etno-ekologi Papua. Data dikumpulkan melalui studi pustaka mendalam, observasi partisipatif terhadap praktik lokal, dan wawancara dengan tokoh masyarkat, ulama, dan aktivis lingkungan di Papua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Eco-Sufisme menekankan konsep tauhid ekologis bahwa alam adalah ayat Tuhan (ayat kauniyah) yang harus dijaga, sementara kearifan lokal Papua melihat alam sebagai subjek yang hidup dan bernyawa, bukan sekadar objek. Titik temu keduanya terletak pada paradigma relasional-sakral terhadap alam. Integrasi ini melahirkan sebuah kerangka kesadaran ekoteologis yang holistik, di mana penghormatan terhadap leluhur, ritual adat, dan spiritualitas Islam menyatu dalam etika pemeliharaan bumi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sintesis antara Eco-Sufisme dan kearifan lokal Papua dapat menjadi landasan epistemologis dan pedagogis yang powerful untuk pendidikan lingkungan, kebijakan konservasi, dan gerakan ekospiritual di Indonesia, menawarkan solusi yang kontekstual, transformatif, dan berbasis nilai kultural-spiritual.