Kehidupan Sosial Masyarakat Kajang

Wahyuni Wahyuni

Sari


Masyarakat Kajang  masih sepenuhnya berpegang teguh kepada adat Ammatowa. Mereka mempraktekkan cara hidup sangat sederhana dengan menolak segala sesuatu yang berbau teknologi. Bagi mereka, benda-benda teknologi dapat membawa dampak negatif  bagi kehidupan mereka, karena bersifat merusak kelestarian sumber daya alam. Komunitas yang selalu mengenakan pakaian serba hitam inilah yang kemudian disebut sebagai masyarakat adat Ammatowa.Masyarakat  Ammatowa mempraktekkan suatu agama adat yang disebut dengan Patuntung.  kata dalam bahasa Makassar yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “mencari sumber kebenaran”(to inquiri into or to investigate the truth). Ajaran Patuntung mengajarkan bahwa jika manusia ingin mendapatkan sumber kebenaran tersebut, maka ia harus menyandarkan diri pada tiga pilar utama, yaitu menghormati Turiek Ara’na (Tuhan), tanah yang diberikan Turiek Ara’na, dan nenek moyang.

Kata Kunci : Kehidupan Sosial, Masyarakat Kajang, Ammatowa, Patuntung

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Abbas, Irwan & Mappanganro Suriadi, Sejarah Islam di Sulawesi Selatan, Makassar : Lamacca Press, 2003.

Abdullah, Irwan, Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan, Yokyakarta : Pustaka Pelajar, 2006.

Baso, Ahmad, Plesetan Lokalitas, Depok : Desantara, 2002.

Basrowi, Pengantar Sosiologi, Bogor : Ghalia Indonesia, 2005.

De Jong, Chris, G. F, Ilalang Arenna. Jakarta : Gunung Mulia, 1996.

Farid, Zainal Abidin, Capita Selecta Kebudayaan Sulawesi Selatan, Ujung Pandang : Hasanuddin University Press, 1999.

___________________, Lontara Sebagai Sumber Sejarah Terpendam (Masa 1500-1800), Makassar : Lembaga Penelitian Hukum, UNHAS, 1980.

Ghazali, Muchtar Adeng, Ilmu Perbandingan Agama, Pengenalan Awal Metodologi Studi Agama-Agama, Bandung : Pustaka Setia, 2000.

______________________, Antropologi Agama, Upaya Memahami Keragaman, Kepercayaan, Keyakinan, dan Agama, Bandung : Alfabeta, 2011.

Hamid, Abu, Sistem Kebudayaan dan Sistem Pranata Sosial dalam Masyarakat Orang Makassar, Ujung Pandang : Laporan Penelitian Unhas, 1982.

Hadikusuma, Hilman, Antropologi Agama Bagian I, Bandung : PT. Citra Aditya, 1993.

Hamzah, Aminah, Nilai-Nilai Luhur Budaya Spritual Masyarakat Ammatowa Kajang, Ujung Pandang : Kanwil Depdikbud Prov. Sul-Sel, 1989.

Hamzah, Aminah, dkk, Monografi Kebudayaan Bugis di Sulawesi Selatan, Ujung Pandang : Pemda Tk. ISul-Sel, 1984.

Hamonic, Gilbert, Nenek Moyang Orang Bugis, Makassar, Pustaka Refleksi, 2008.

Koentjaraningrat, Ritus Peralihan di Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1985.

Kaelany,Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, Jakarta : Bumi Aksara, 2000.

Karel, A. Steenbrink, Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat Kajian Kritis Mengenai Agama di Indonesia, Yokyakarta : IAIN Sunan Kalijaga, 1988.

Katu, Samiang. Pasanga ri Kajang. Akomodasi Islam dengan Budaya Lokal di Sulawes Selatan. Makassar : PPIM IAIN Alauddin, 2000.

Liliweri, Alo, Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya, Yokyakarta : PT LKiS Pelangi Aksara, 2007.

Mattulada, Latoa Satu Lukisan Analitis Antropologi Politik Orang Bugis, Ujung Pandang : Hasanuddin University Press, 1995.

--------------- ,Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah 1510-1700, Ujung Pandang : Bhakti Baru Berita Utama, 1982.

_________ ,Sejarah Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Ujung Pandang : Lembaga Penerbitan UNHAS, 1998.

Mukhlis, dkk, Sejarah Kebudayaan Sulawesi, Jakarta : Depdikbud 1995.

Nadjamuddin, Nurhayati Djamas, Varian Keagamaan Orang Bugis-Makassar Studi Kasus di Desa Timbuseng Gowa, Ujung Pandang : PLPIIS UNHAS, 1983.

Noerduyn, J. Islamisasi Makassar. Jakarta : Bharata, 1982

Putra, dan Heddy, Minawang : Hubungan Patron Klien di Sulawesi selatan, Yokyakarta : Gama Press, 1988.

Palenkahu, Arnold. Komunitas Adat Terpencil di Sulawesi Selatan. Bandung : Mandar Maju, 1980.

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2004.