LITERASI INFORMASI SEBAGAI MODEL DAKWAH DALAM MEMERANGI TERORISME

Irvan Muliyadi

Abstract


Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi merubah bagaimana informasi direkam, disimpan, dan diakses. Setiap orang memiliki kesempatan menerbitkan sekaligus mengakses tulisan tentang jihad di internet. Oleh karena itu, siapapun rentang terpapar paham radikalisme dan fundamentalisme baik melalui bacaan mengenai Jihad di Internet maupun melalui ajakan langsung untuk berjihad oleh kelompok radikalis atau fundamentalis. Literasi informasi atau keberaksaraan informasi yang diartikan sekumpulan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang berkaitan dengan informasi menjadi fondasi dalam mengurangi aksi terror. Pengetahuan dan keterampilan tersebut mencakup pengetahuan dan keterampilan untuk membuat strategi penelusuran informasi, mengakses informasi, mengevaluasi reliabilitas suatu informasi, memahami informasi, menyebarkan informasi dan menggunakan informasi. Model dakwah literasi memerangi terror mencakup penyampaian kepada mad’u tentang : strategi menelusur informasi jihad di internet yakni memasukkan kata kunci jihad, sinonim kata jihad, varian kata jihad ataupun kata yang berkaitan jihad misalnya arhaba dan variannya; mengevaluasi autoritas penulis dengan melihat biografinya, mengevaluasi kualitas tulisan dengan melihat rujukannya dan kemungkinan bias; memberikan fondasi dalam memahami nash-nash tentang jihad, menyebarkan informasi jihad yang benar melalui berbagai media dan menggunakan atau mengaplikasikan arti jihad yang sesungguhnya dalam hidupnya.

References


Sakti, Shukma. DPR dan Pemerintah Akhirnya Tetapkan Definisi Terorisme di RUU Antiterorisme. Diakses tanggal 6 Mei 2020 di https://www.idntimes.com/news/indonesia/teatrika/dpr-dan-pemerintah-akhirnya-tetapkan-definisi-terorisme-di-ruu-antiterorisme-1/2

Halim, Devina. KALEIDOSKOP 2019: Sejumlah Teror yang Guncang Indonesia, Bom Bunuh Diri hingga Penusukan Wiranto", diakses tanggal 6 Mei 2020 di https://nasional.kompas.com/read/2019/12/25/07485601/kaleidoskop-2019-sejumlah-teror-yang-guncang-indonesia-bom-bunuh-diri-hingga?page=all.

Saubani, Andri. Penyebab Seseorang Terpapar Radikalisme Menurut Menag. Diakses tanggal 6 Mei 2020 di https://republika.co.id/berita/q1bjnd409/penyebab-seseorang-terpapar-radikalisme-menurut-menag.

Doyle, Christiana S. 1995, March, April. “Information Literacy”. Emergency Librarian, vol. 22 no 4: h. 30-32

Kirk, Joyce dan Ross Todd. 1992. InformationLiteracy: Changing the Role for the Information Professionals in Information Age.: The Ausralian Agenda. Adelaide: Auslib Press

Cox, Christhoper N dan Elizabeth Blakesly Lindsay. 2008 Information Literacy Instruction Handbook. Chicago: Association of College and Research Libraries.

Tausikal, Muhammad Abduh. Islam Mengajarkan Terorisme? Diakses 6 April 2020 di https://rumaysho.com/10511-islam-mengajarkan-terorisme.html

_____ Tafsir web. Diakses tanggal 6 April 2020 di https://tafsirweb.com/9776-quran-surat-al-hujurat-ayat-6.html

Muhammad Sulaiman Al Asyqar. Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir. Diakses tanggal 6 Mei 2020 di https://tafsirweb.com/9776-quran-surat-al-hujurat-ayat-6.html

Peterson, Rune. 1994. “Learning in the Informatin Age”. Educational Technology, Research and Development, vol 42 no. 1: h. 91-97

Carlson, Chris dan Ellen Brosnahan. 2009. Guiding Students into Information Literacy: Strategies for Teachers and the Teacher-Librarians.United Kingdom: The Scarecrow Press.

Peterson, Rune. 1994. “Learning in the Informatin Age”. Educational Technology, Research and Development, vol 42 no. 1: h. 91-97

Eisenberg, Michael B. Carrie A. Lowe dan Kathleen L.Spitzer. 2004. Information Literacy: Essential skills for the Information Age. London: Libraries Unlimited


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal Mercusuar is indexed by