TANTANGAN DAN PELUANG PENGEMBANGAN AKAD RAHN DI INDUSTRI KEUANGAN AKAD SYARIAH
DOI:
https://doi.org/10.24252/iqtishaduna.v7i2.63411Abstrak
Abstrak
Penelitian ini membahas secara komprehensif perkembangan, implementasi, serta tantangan dan peluang pengembangan akad rahn (gadai syariah) dalam industri keuangan syariah di Indonesia. Berangkat dari meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pembiayaan yang sesuai syariah, penelitian ini menyoroti pentingnya rahn sebagai instrumen pembiayaan jangka pendek yang bebas riba dan memiliki karakter inklusif sehingga relevan bagi masyarakat berpenghasilan rendah serta pelaku UMKM. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini mengintegrasikan analisis fikih, tinjauan regulasi nasional, serta praktik operasional lembaga keuangan syariah seperti Pegadaian Syariah, BPRS, dan bank syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi rahn telah berkembang signifikan melalui berbagai inovasi produk seperti rahn emas, rahn multiguna, serta digitalisasi layanan (e-rahn). Namun demikian, tantangan utama masih muncul dalam bentuk rendahnya literasi keuangan syariah, ketidakharmonisan regulasi terkait penetapan ujrah, penilaian marhun, diversifikasi objek jaminan, serta minimnya standardisasi operasional antar lembaga. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan regulasi, standardisasi nasional, serta inovasi teknologi untuk mendorong efisiensi, memperluas jangkauan layanan, meningkatkan kepercayaan masyarakat, dan menjadikan rahn sebagai pilar strategis dalam pencapaian inklusi keuangan syariah di era digital.
Kata Kunci: Rahn; Gadai Syariah; Regulasi Syariah; Standardisasi Akad; Inklusi Keuangan Syariah; Pegadaian Syariah; Digitalisasi Keuangan; Fikih Muamalah.
Abstract
This study provides a comprehensive analysis of the development, implementation, challenges, and opportunities surrounding the rahn (Islamic pawn) contract within Indonesia’s Islamic financial industry. Motivated by the increasing public demand for Sharia-compliant financing instruments, this research highlights rahn as an inclusive, flexible, and riba-free financing mechanism that is highly relevant for low-income communities and micro, small, and medium enterprises (MSMEs). Using a qualitative descriptive approach through library research, this study integrates fiqh analysis, national regulatory frameworks, and operational practices in Islamic financial institutions such as Islamic pawnshops, BPRS, and Islamic commercial banks. The findings reveal significant growth in rahn implementation, marked by product innovations including gold rahn, multipurpose rahn, and the development of digital services (e-rahn). However, key challenges persist, including low levels of Islamic financial literacy, regulatory disparities regarding ujrah determination, valuation of collateral (marhun), diversification of permissible pledged assets, and the lack of standardized operational procedures across institutions. These findings underscore the need for strengthened regulation, national standardization, and technological innovation to enhance efficiency, expand service reach, improve consumer trust, and position rahn as a strategic instrument for advancing Islamic financial inclusion in the digital era.
Keywords: Rahn; Islamic Pawn; Sharia Compliance; Contract Standardization; Islamic Financial Regulation; Financial Inclusion; Islamic Pawnshop; Digital Financial Services; Fiqh Muamalah.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Salsabila Nasruddin, Chitra Aulia Azhari, Sarmila Dayanti, Kamaruddin, Muh.Ahsan Kamil

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Once an article was published in the journal, the author(s) are:
- to retain copyright and grant to the journal right licensed under Creative Commons License Attribution that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship.
- permitted to publish their work online in third parties as it can lead wider dissemination of the work, with an acknowledgement of its initial publication in this journal
- continue to be the copyright owner and allow the journal to publish the article with the CC BY-NC-SA license
- receiving a DOI (Digital Object Identifier) of the work.





