IMPLEMENTASI TEMOAN DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN EKONOMI MASYARAKAT LOKAL

Authors

  • Aisyah Karimah Hukum Ekonomi Syariah, Institut Agama Islam Az-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS)
  • Safinaturahmah Hukum Ekonomi Syariah, Institut Agama Islam Az-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS)
  • Ali Aminullah Hukum Ekonomi Syariah, Institut Agama Islam Az-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS)

DOI:

https://doi.org/10.24252/iqtishaduna.v7i4.69027

Abstract

Abstract

 

This study analyzes the Temoan tradition in strengthening local economic independence in

the Gantar and Haurgeulis subdistricts of Indramayu. Using qualitative field research methods, data was collected through interviews with PKK catering committee members and event organizers. The findings indicate that the Temoan tradition functions as an 'urf shahih because it is rooted in the value of ta'awun (mutual aid), which is able to reduce wedding costs and create informal job opportunities. This practice aligns with the pillars of Maqashid Syariah, particularly in collectively safeguarding property (hifz mal) and life (hifz nafs). However, the tide of modernization has sparked challenges in the form of a shift in values toward an 'urf fasid due to unwritten rules that rigidly mandate the return of contributions, even giving rise to a unique collection phenomenon using packaged goods as a medium, which creates social pressure. Therefore, a restructuring of organizational governance through structured associations and religious education is necessary to restore the essence of voluntarism so that this tradition remains beneficial and sustainable.

 

Keywords: Temoan, 'Urf, Maqashid Syariah, Local Economy

 

Abstrak

 

Penelitian ini menganalisis tradisi Temoan dalam memperkuat kemandirian ekonomi lokal di Kecamatan Gantar dan Haurgeulis, Indramayu. Melalui metode kualitatif lapangan, data dihimpun lewat wawancara dengan pengurus katering PKK dan penyelenggara hajatan. Hasil temuan menunjukkan tradisi Temoan berjalan sebagai 'urf shahih karena berbasis nilai ta'awun (tolong-menolong) yang mampu memangkas biaya pernikahan serta membuka lapangan kerja informal. Praktik ini selaras dengan pilar Maqashid Syariah, terutama dalam menjaga harta (hifz mal) dan jiwa (hifz nafs) secara kolektif. Namun, arus modernisasi memicu tantangan berupa pergeseran nilai menuju 'urf fasid akibat aturan tidak tertulis yang mewajibkan pengembalian sumbangan secara kaku, bahkan memunculkan fenomena penagihan unik menggunakan media barang sasetan yang menimbulkan tekanan sosial. Oleh karena itu, diperlukan penataan ulang tata kelola organisasi melalui paguyuban yang terstruktur serta edukasi keagamaan guna memurnikan kembali esensi sukarela agar tradisi ini tetap maslahat dan berkelanjutan.

 

Kata Kunci: Temoan, 'Urf, Maqashid Syariah, Ekonomi Lokal

 

 

Downloads

Published

2026-07-30

Issue

Section

Volume 7 Nomor 4 Juli 2026