KARAKTERISASI MOLEKULER DAN DISKRIMINASI SPEKTROSKOPIK ATR-FTIR PADA SERAT KERATIN ALAMI DAN POLIMER SINTETIS
Abstract
Perkembangan pesat sektor kosmetik, seni rupa, dan konstruksi mendorong peningkatan permintaan terhadap kuas, yang kualitasnya sangat bergantung pada material serat yang digunakan, mulai dari keratin hewan hingga polimer sintetik. Karena kurangnya standarisasi dan maraknya pelabelan yang palsu, diperlukan sebuah sistem kontrol kualitas analitik yang andal. Penelitian ini menerapkan metode Attenuated Total Reflectance-Fourier Transform Infrared Spectroscopy (ATR-FTIR) sebagai teknik non-destruktif untuk membedakan profil spektroskopi dari tiga jenis kuas komersial: kuas bulu babi hutan alami, kuas kosmetik, dan kuas cat. Analisis kualitatif dalam rentang 4000–400 cm⁻¹ mengidentifikasi tiga kelompok material dasar. Kuas bulu babi menunjukkan penanda biologis berupa pita Amida I (1633,31 cm⁻¹) dan Amida II (1523,94 cm⁻¹) yang mencerminkan ikatan peptida alamiah. Sebaliknya, kuas kosmetik secara keseluruhan dan satu jenis kuas cat memperlihatkan puncak regangan karbonil yang tajam (1703,99–1710,55 cm⁻¹), mengonfirmasi keberadaan poliester sintetik (PET/PBT). Jenis kuas cat lainnya menunjukkan profil yang mirip protein hewan, yang mengindikasikan penggunaan poliamida sintetik (nilon) atau serat hibrida campuran. Hasil penelitian ini memvalidasi efektivitas ATR-FTIR sebagai metode identifikasi kimia untuk protokol kontrol kualitas di industri manufaktur domestik. Pengembangan repositori spektrum referensi nasional dan pengintegrasian metode kemometrik sangat disarankan untuk meningkatkan perlindungan konsumen dan kepatuhan terhadap Standar Nasional Indonesia (SNI).
Kata Kunci : ATR-FTIR, kontrol kualitas, serat kuas, diskriminasi material