STUDI KARAKTERISTIK RUANG PADA BANGUNAN RUMAH TINGGAL KOLONIAL DI KAWASAN BANGIREJO TAMAN YOGYAKARTA

Dimas Wihardyanto, Ikaputra Ikaputra

Abstract


Abstrak_ Bangirejo Taman merupakan salah satu kawasan perumahan untuk para pegawai pemerintahan  kolonial Belanda (amtenar) yang berada di Yogyakarta. Penggunaan kata taman dibelakang Bangirejo pada kawasan perumahan ini untuk memperjelas perbedaan karakteristik kawasan perumahan ini dengan permukiman di sekitarnya dimana kawasan perumahan Bangirejo Taman didesain dengan adanya taman lingkungan di tengah kawasan. Peneliti menggunakan pendekatan interpretive historical research untuk mendapatkan karakteristik arsitektur tata ruang yang asli mencakup tata massa, tata ruang, orientasi, sirkulasi, serta hubungan dan hirarki ruang. Karakteristik tersebut didapatkan dengan cara melakukan proses gambar rekonstruksi tata ruang pada perumahan kolonial Bangirejo Taman berdasarkan analisis kesamaan dan perbedaan gambar denah 7 buah rumah tinggal yang dipilih dengan pendekatan snowball sampling. Dari hasil analisis diketahui bahwasanya karakteristik tata ruang bangunan rumah tinggal kolonial di Kawasan Bangirejo Taman dirancang terutama untuk memenuhi aspek fungsionalitas. Hal ini tampak dari adanya pemisahan antara bangunan inti (hoofdgebouw), dan bangunan servis (bijgebouw) yang keduanya dihubungkan oleh selasar. Karakteristik tersebut diperkuat dengan pola konfigurasi dan sirkulasi ruang pada bangunan inti dan servis yang tunggal dan sederhana. Selain memenuhi fungsionalitas ruang, perancangan rumah tinggal kolonial di Kawasan Bangirejo Taman juga memperhatikan higienitas ruang dengan meletakkan bangunan inti dan bangunan servis di bagian tengah dari lahan agar mendapatkan sinar matahari yang cukup, dan prinsip cross ventilation dapat diterapkan.

Kata kunci : Arsitektur Kolonial; Karakteristik Ruang; Rumah Tinggal Kolonial; Interpretive Historical Research.

 

Abstract_ BangirejoTaman is a residential area for the employees of the Dutch colonial government (Amtenaar) located in Yogyakarta. The use of the word taman (park) behind Bangirejo in this residential area is to clarify the differences in the characteristics of this residential area with the surrounding settlements where the BangirejoTaman residential area is designed with a neighborhood park in the middle of the area. Researchers used an interpretive historical research approach to obtain the characteristics of the original spatial architecture including spatial planning, spatial planning, orientation, circulation, and relationships, and hierarchical space. These characteristics were obtained by carrying out a process of drawing spatial reconstruction in the colonial housing estate BangirejoTaman based on an analysis of the similarities and differences in the drawings of 7 residential planes that were selected using a snowball sampling approach. From the results of the analysis, it is known that the characteristics of the spatial structure of colonial residential buildings in the BangirejoTaman Area are designed primarily to meet the functional aspects. This can be seen from the separation between the core building (hoofdgebouw), and the service building (bijgebouw) which are both connected by a hallway. These characteristics are reinforced by the pattern of configuration and circulation of space in the core building and a single and simple service. In addition to fulfilling spatial functionality, the design of colonial dwellings in the BangirejoTaman Area also pays attention to space hygiene by placing core buildings and service buildings in the middle of the land in order to get enough sunlight, and the principle of cross ventilation can be applied.

Keywords:  Colonial Architecture; Spatial Characteristics; Colonial House; Interpretive Historical Research.


Keywords


Colonial Architecture; Spatial Characteristics; Colonial House; Interpretive Historical Research.

References


Akihary, Huib. (1988). Architectuur & Stadebouw in Indonesie 1870-1970, Netherland: De Walburg Pers, Zupthen.

Cresswell, John. (2007). Qualitative Inquiry And Research Design, Choosing Among Five Approaches. London, United Kingdom : The Sage Publications.

Darmosugito. (1956). Kota Yogyakarta 200 Tahun 7 Oktober 1756–7 Oktober 1956. Pemerintah Kotapraja Yogyakarta.

Gill, Ronald. (1998). Country Houses in the 18th Century.” In Indonesian Heritage Book 6 : Architecture. Singapore: Archipelago Press.

Groat, Linda., Wang, David. (2002). Architectural Research Method. New York: John Wiley & Sons Publishing.

Handinoto. (2010). Arsitektur dan Kota-Kota di Jawa Pada Masa Kolonial. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Herbert, Michael. (1989). “The British garden city: metamorphosis.” In The garden city: past,

Junawan, Muhammad. (1998). Kota Baru : Pola Pemukiman Masyarakat Belanda di Yogyakarta. Yogyakarta: Thesis Magister UGM.

Kesuma, Yunita. (2016). “Land Use dan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Kotabaru Yogyakarta, Berdasarkan Konsep Garden City.” Losari : Jurnal Arsitektur, Kota, dan Permukiman 2, no.2 (2016): 117-122.

Leuhuis, Emile. (2014). Panduan Jelajah Kota-Kota Pusaka di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Nix, Charles Thomas. (1949). De Vormleer Van De Stedegebouw in Het Bijzonder Voor Indonesia. The Netherland: Doctoral Dissertation Technische Hoogeschool Delft.

Passchier, Cor. (2007). Arsitektur Kolonial Di Indonesia Rujukan Dan Perkembangan.” In Masa Lalu Dalam Masa Kini : Arsitektur Indonesia. Jakarta: Netherland Architecture Institute: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Passchier, Cor. (2012). “Mencari Arsitektur Indonesia Yang Utama Pada Masa Akhir Kolonial.”In Tegang Bentang Seratus Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Present and Future. London: E&FN Spon.

Silas, Johan. (2005). Perjalanan Panjang Perumahan Indonesia Dalam Dan Sekitar Abad XX.” In Kota Lama Kota Baru Sejarah Kota-Kota Di Indonesia. Yogyakarta: NIOD Netherlands-Penerbit Ombak.

Soekiman, Djoko. (2011). Kebudayaan Indis Dari Zaman Kompeni Sampai Revolusi. Jakarta: Komunitas Bambu.

Soemardjan, Selo. (1962). Social Changes in Yogyakarta. Ithaca. New York: Cornell University Press.

Suparwoko. (2013). Peningkatan Kapasitas Perumahan Swadaya di Indonesia. Yogyakarta: Total Media.

Surjomihardjo, Abdurrahman. (2008). Kota Yogyakarta Tempo Doeloe, Sejarah Sosial 1880-1930. Jakarta: Komunitas Bambu.

Suryanto. (2015). “Aspek Budaya Dalam Keistimewaan Tata Ruang Kota Yogyakarta.” Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 26, no.3 (2015): 230-252.

Widodo, Johannes. (2007). Arsitektur Indonesia Modern : Transplantasi, Adaptasi, Akomodasi, dan Hibridisasi.”In Masa Lalu dalam Masa Kini : Arsitektur di Indonesia.Jakarta: Netherland Architecture Institute–PT. Gramedia Pustaka Utama.

Wihardyanto, Dimas. (2019). “Pembangunan Permukiman Kolonial Belanda di Jawa : Sebuah Tinjauan Litteratur.” Nature : National Academic Journal of Architecture 6, no. 2 (2019): 146-161.

Wihardyanto, Dimas. (2020). “Pengaruh Kolonialisme Belanda di Kawasan Pusat Kota Pulau Jawa :Sebuah Kajian Literatur.” Nature : National Academic Journal of Architecture 7, no. 1 (2020): 16-36.

Wiyatiningsih. (2000). Karakteristik Arsitektur Bangunan Rumah Tinggal di Kawasan Bintaran Yogyakarta.Yogyakarta: Thesis Magister UGM.




DOI: https://doi.org/10.24252/nature.v7i2a7

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


_____________________________________

SUPPORTED BY

 

INDEXED BY: See Google Scholar profile by clicking here.

              

Nature : National Academic Journal of Architecture, Department of Architecture, Faculty of Science and TechnologyAlauddin Islamic State University of Makassar is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License, p-ISSN: 2302-6073, e-ISSN: 2579-4809

Jl. H. M. Yasin Limpo No. 36, Gowa, South Sulawesi, Indonesia
Phone : +6281-241-183-51, +6285-343-616-133, Post Office: 92113
Email  : jurnalnature@uin-alauddin.ac.id