The Legal Status of Interfaith Marriage from the Perspectives of Positive Law and Islamic Law
A Case Study of the Practice of Legal Submission in Tondon Mamullu, Tana Toraja Regency
DOI:
https://doi.org/10.24252/al-qadau.v13i1.67525Keywords:
Interfaith Marriage; Legal Subordination; Islamic LawAbstract
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mengkaji penundukan hukum terhadap perkawinan beda agama serta status hukumnya berdasarkan perspektif hukum positif Indonesia dan hukum Islam dengan studi kasus di Tondon Mamullu, Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode normatif-empiris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hukum positif, penundukan hukum dilakukan melalui berbagai strategi adaptif. Sebelum terbitnya Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2023, pencatatan perkawinan beda agama umumnya dilakukan melalui penetapan pengadilan negeri. Setelah berlakunya SEMA tersebut, yang diperkuat oleh Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 24/PUU-XX/2022, praktik tersebut tidak lagi dimungkinkan sehingga sebagian masyarakat beralih pada konversi agama administratif untuk memperoleh legalitas perkawinan di KUA. Dari perspektif hukum Islam, mekanisme penundukan hukum tidak dibenarkan karena perkawinan beda agama dipandang bertentangan dengan syariat sebagaimana ditegaskan dalam Fatwa MUI Nomor 4/MUNAS VII/MUI/8/2005. Penelitian ini merekomendasikan harmonisasi regulasi dan penguatan pengawasan administratif guna menjamin kepastian hukum.
Kata Kunci: Pernikahan Beda Agama; Penundukan Hukum; Hukum Islam.
Abstract
This study aims to examine the practice of legal submission in interfaith marriages and its legal status from the perspectives of Indonesian positive law and Islamic law, using Tondon Mamullu Village, Makale District, Tana Toraja Regency, as the case study. Employing a descriptive qualitative approach with a normative-empirical method, the study finds that legal submission under positive law has been pursued through various adaptive strategies. Prior to the issuance of the Supreme Court Circular Letter (SEMA) No. 2 of 2023, interfaith marriages were commonly registered through district court determinations. However, the Circular Letter, reinforced by Constitutional Court Decision No. 24/PUU-XX/2022, prohibited such registrations, prompting some couples to undertake administrative religious conversion to obtain legal recognition through the Office of Religious Affairs (KUA). From the perspective of Islamic law, legal submission is not recognized because interfaith marriage is considered religiously prohibited, as affirmed in the Indonesian Ulema Council Fatwa No. 4/MUNAS VII/MUI/8/2005. The study recommends harmonizing national regulations and strengthening administrative oversight to ensure legal certainty and prevent legal circumvention.
Keywords: Interfaith Marriage; Legal Subordination; Islamic Law.
References
Buku
Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2003)
Al-Hamdani, H.S.A., Risalah Nikah, diterjemahkan oleh Agus Salim, edisi ke-2 (Jakarta: Pustaka Amani, 2002)
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2006)
Asmin, Status Pernikahan Antar Agama Ditinjau Dari Undang-Undang Pernikahan No 1/1974, cetakan ke-1 (Jakarta: P.T Dian Rakyat, 2006)
Karsayuda, M., Perkawinan Beda Agama Menakar Nilai-Nilai Keadilan Kompilasi Hukum Islam (Yogyakarta: Total Media, 2006)
Prodjodikoro, R. Wirjono, Hukum Perkawinan di Indonesia (Bandung: Sumur, 1984)
Rofiq, Ahmad, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Jakarta: Rajawali Pers, 2013)
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D, cetakan ke-11 (Bandung: Alfabeta, 2010)
Syarifuddin, Amir, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2006)
Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat: Kajian Nikah Lengkap (Depok: Rajawali Pers, 2018)
Kitab Klasik
Al-Jaziri, Abd ar-Rahman, Kitab al-Fiqih 'ala al-Mazahib al-Arba'ah, jilid III (Mesir: Maktabah Tijariyah Kubra, t.t.)
As-Shna'ni, Sihabuddin bin Muhammad, Bada'i Ash-Shana'i, jilid II (Lebanon: Darul Ma'arif Arabiyah, t.t.)
As-Syaukani, Muhammad Bin Ali Bin Muhammad, Fathu al-Qadir al-Jami' Baina Fannai al-Riwayah wa al-Dirayah Min 'Ilmi al-Tafsir, juz III (Beirut: Darul Ma'rifah, 1428 H/2007 M)
Asy-Syarbini, Muhammad Syamsuddin bin Ahmad Al-Khotib, Mughni Al-muhtaj, juz III (Beirut: Darul Ma'rifat, 1997 M)
Az-Zailaiy, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, juz II (Beirut: Daar Al-Ma'rifah, t.t.)
Ibnu Rusdy, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatu al-Muqtashid, juz II (Beirut: Maktabah Ilmiyah, t.t.)
Wawancara
Ahmad Gazali, Drs., Imam Masjid Raya Kecamatan Makale Kabupaten Tana Toraja, wawancara, Makale, 26 Januari 2023
Arif, H. Irwan, S.Ag., M.H., Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Makale Kabupaten Tana Toraja, wawancara, Makale, 24 Januari 2023
Lodo, H. Tamrin, S.Ag., M.Pd.I., Kementerian Agama Kabupaten Tana Toraja, wawancara, Makale, 25 Januari 2023
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Once an article was published in the journal, the author(s) are:
- granted to the journal right licensed under Creative Commons License Attribution that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship.
- permitted to publish their work online in third parties as it can lead wider dissemination of the work.
- continue to be the copyright owner and allow the journal to publish the article with the CC BY-NC-SA license
- receiving a DOI (Digital Object Identifier) of the work.






