Analisis Dinamika Vertikal Atmosfer pada Kejadian Hujan Es Menggunakan Profil Vertikal dan Citra Satelit Himawari-9 (Studi Kasus: Kabupaten Bogor, 28 Oktober 2024)
DOI:
https://doi.org/10.24252/jft.v12i2.60115Kata Kunci:
Cross Section, Hujan Es, Profil Vertikal, Satelit Himawari-9Abstrak
Hujan es merupakan salah satu fenomena cuaca ekstrem yang ditandai pertumbuhan awan kumulonimbus dan proses konveksi dalam waktu singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik awan penyebab hujan es yang terjadi di Kabupaten Bogor pada 28 Oktober 2024. Data yang digunakan dari satelit Himawari-9 band 8, 13, dan 15, data reanalisis ERA5 berupa CAPE (Convective Available Potential Energy), CIN (Convective Inhibition), relative humidty, temperature, vertical velocity, specific humidity, dan U V component of wind. Pengolahan data Himawari-9 dilakukan dengan metode Cloud Convective Overlay (CCO) dan data reanalisis ERA5 diolah menggunakan python. Hasil penelitian menunjukkan relative humidity bernilai lebih dari 85%, profil vertikal vektor angin, kecepatan vertikal, dan divergensi menunjukkan pola updraft kuat hingga 2 m/s dan downdraft hingga -1,5 m/s. Analisis temporal nilai CAPE mencapai 893 J/kg dan CIN sebesar 62 J/kg mengindikasikan energi konvektif yang cukup besar dengan hambatan atmosfer yang rendah. Interpretasi sebaran awan menggunakan CCO menunjukkan pertumbuhan awan kumulonimbus yang signifikan. Energi konveksi yang kuat, hambatan atmosfer yang rendah, pola updraft, dan kelembapan relatif yang signifikan berintegrasi dalam pembentukan awan konvektif yang memicu hujan es. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat pemahaman peran dinamika vertikal atmosfer, khususnya interaksi CAPE–CIN dan parameter cuaca, dalam pembentukan hujan es di wilayah tropis bertopografi kompleks seperti Kabupaten Bogor, serta mengembangkan pendekatan integratif antara analisis profil vertikal atmosfer dan interpretasi citra satelit Himawari-9 untuk mengidentifikasi awan konvektif dan merepresentasikan proses fisik internal awan.
Unduhan
Referensi
[1] R. A. Houze, “Orographic effects on precipitating clouds,” Reviews of Geophysics, vol. 50, no. 1, Mar. 2012, doi: 10.1029/2011RG000365.
[2] A. N. Efendi & S. Kuncorojati, “Analisis Hujan dan Angin Kencang di Melawi Menggunakan Data Radar dan Satelit Cuaca (Studi Kasus Tanggal 29 Desember 2018) Stasiun Meteorologi Nanga Pinoh-¬Melawi 2),” Jurnal Widya Climago, vol. 2, no. 1, 2020.
[3] C. D. Ahrens, Meteorology Today: An Introduction to Weather, Climate, and the Environment, 9th ed. Belmont, CA: Brooks/Cole Cengage Learning, 2009.
[4] Bayong Tjasyono H. K., Meteorologi Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, 2012.
[5] Wicaksono, H., Sadarang, F. R., & Fadlan, A., “Analisis Hujan Es di Kota Lubuklinggau dengan Memanfaatkan Data Citra Satelit Himawari-8 dan Radiosonde,” Prosiding SNFA (Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya), 2018. https://doi.org/10.20961/prosidingsnfa.v3i0.28526
[6] E. Hermawan, “Analisis Struktur Vertikal MJO Terkait dengan Aktivitas Super Cloud Clusters (SCCs) di Kawasan Barat Indonesia,” Jurnal Sains Dirgantara, vol. 8, no. 1, 2010.
[7] E. Hermawan & D. M. Husni, “Perbandingan antara Equatorial Atmosphere Radar dengan Middle and Upper Atmosphere Radar dalam Pemantauan Angin Zonal dan Angin Meridional,” Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, vol. 3, no. 1, pp. 45–51, 2002.
[8] Giordani, A., Kunz, M., Bedka, K. M., Punge, H. J., Paccagnella, T., Pavan, V., Cerenzia, I. M. L., & Di Sabatino, S, “Characterizing hail-prone environments using convection-permitting reanalysis and overshooting top detections over south-central Europe,” Natural Hazards and Earth System Sciences, vol. 24, no. 7, pp. 2331–2357, 2024. doi: 10.5194/nhess-24-2331-2024.
[9] A. M. Hidayat, U. Efendi, H. Nur, R., “Hail Phenomena Identification Based on Wheater Factor Analysis, Satellite Data and Numerical Model using GrADS Application (Case study of hail on 19th and 23rd of April 2017 in Bandung),” in Seminar Nasional Penginderaan Jauh, 2017.
[10] M. J. Fadhilah & A. Mulya, “Analisis Dinamika Atmosfer dan Identifikasi Sebaran Awan Konvektif Menggunakan Metode RGB pada Citra Satelit Himawari-8 Terkait Banjir di Kabupaten Jayawijaya,” Jurnal Teknik SILITEK, vol. 1, no. 2, pp. 121–134, 2022. https://doi.org/10.51135/jts.v1i02.17
[11] A. Sri Asmita & J. Daud Malago, “Perbandingan Divergensi dan Vortisitas Model ECMWF dan Luaran SATAID saat Kejadian Hujan di Mamuju,” Jurnal Fisika Unand (JFU), vol. 12, no. 4, pp. 658–665, 2023, doi: 10.25077/jfu.12.4.658-665.2023.
[12] Paul. Markowski & Yvette. Richardson, Mesoscale meteorology in midlatitudes. Wiley-Blackwell, 2010.
[13] J. M. Wallace & P. V Hobbs, Atmospheric Science: An Introductory Survey, 2nd ed. San Diego: Academic Press (Elsevier), 2006.
[14] M. I. Hastuti & A. Mulsandi, “Pemantauan Sebaran Awan Konvektif Menggunakan Metode Cloud Convective Overlays dan RGB Convective Storms pada Satelit Himawari-8,” Seminar Nasional Penginderaan Jauh ke-4, 2017.
[15] S. Alfiandy, R. C. H. Hutauruk, & D. S. Permana, “Peran Dinamika Laut dan Topografi terhadap Pola Hujan Tipe Lokal di Wilayah Kota Palu,” Depik, vol. 9, no. 2, pp. 173–183, 2020, doi: 10.13170/depik.9.2.16106.
[16] A. Fadholi, “Analisa Kondisi Atmosfer pada Kejadian Cuaca Ekstrem Hujan Es (Hail ),” SIMETRI, Jurnal Ilmu Fisika Indonesia, vol. 1, no. 2, pp. 74–80, 2012.
[17] H. Arrashid, D. Sucahyono, Y. D. Haryanto, & L. N. Qomariyatuzzamzami, “Kondisi Dinamika Atmosfer Saat Hujan Lebat di Kalimantan Selatan (Periode 12–17 Januari 2021),” Buletin Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, 2023.
[18] B. E. Mapes & R. A. , Jr. Houze, “Diabatic Divergence Profiles in Western Pacific Mesoscale Convective Systems,” J. Atmos. Sci., 1995, doi: 10.1175/1520-0469(1995)052<1807:DDPIWP>2.0.CO;2.
[19] A. Azizah Azani & N. Kusumawardani, “Kajian Indeks Stabilitas Atmosfer terhadap Kejadian Hujan Lebat di Kota Bitung (Studi Kasus Tahun 2020–2021),” Jurnal Widya Climago, vol. 4, no. 1, 2022.
[20] Maulidianto, N. F. R. Tempo, & Yosafat Donni Haryanto, “Analisis Kondisi Atmosfer Saat Kejadian Hujan Es Menggunakan Data Observasi, Data Pemodelan Numerik, dan Data Satelit Cuaca (Studi Kasus: Kejadian Hujan Es di Wilayah Kapan, Kabupaten Timor Tengah Selatan Tanggal 29 November 2023),” JFT: Jurnal Fisika dan Terapannya, vol. 11, no. 1, pp. 60–77, 2024, doi: 10.24252/jft.v11i1.45152.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Bima Arzhida, Safri Emanuel M., Dhaifullah Rafif A., Yoseph Darrel, Aries Kristianto

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.













