Politik Deepfake Di Indonesia: Integrasi Tabayyun Dan Falsafah Dayak Belom Bahadat Dalam Merespons Manipulasi Tokoh Publik

Authors

  • Siti N. Hikmah Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

DOI:

https://doi.org/10.24252/dinuna.v2i1.66042

Keywords:

Belom Bahadat, Etika Politik, Deepfake, Tabayyun

Abstract

Fenomena deepfake menjadi tantangan serius bagi politik digital karena mampu merusak reputasi tokoh publik dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi. Di Indonesia, kasus-kasus deepfake menunjukkan lemahnya literasi digital sehingga publik mudah terpengaruh manipulasi informasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kepustakaan dan analisis wacana kritis Norman Fairclough untuk menawarkan kerangka etika politik berbasis nilai spiritual Islam dan kearifan lokal Dayak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip tabayyun dalam QS. Al-Hujurat [49]: 6 berfungsi sebagai mekanisme verifikasi informasi, sedangkan falsafah Belom Bahadat menekankan martabat dan kejujuran dalam interaksi sosial. Integrasi keduanya menghasilkan etika politik digital yang kritis sekaligus bermartabat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa respons terhadap deepfake tidak cukup bersifat teknologis atau legal, tetapi harus berakar pada nilai spiritual dan kearifan lokal sebagai kontribusi khas Indonesia bagi etika politik global.

Downloads

Published

2026-06-21