Perbandingan Karakteristik Biofoam Berbahan Dasar Pati Sagu Dan Limbah Ampas Tebu Dengan Dan Tanpa Penambahan Polyvinil Alkohol (Pva) Sebagai Kandidat Material Kemasan Biodegradable
DOI:
https://doi.org/10.24252/sainfis.v6i2.71389Kata Kunci:
biofom, biodegradable, pati sagu, ampas tebu, polyvinyl alcohol, kemasan panganAbstrak
Penggunaan styrofoam sebagai kemasan pangan menimbulkan risiko kesehatan akibat kandungan stirena yang bersifat neurotoksik dan berpotensi karsinogenik, serta menimbulkan masalah lingkungan karena sulit terurai secara alami. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan mengkarakterisasi biodegradable foam (biofoam) berbahan dasar pati sagu dengan penambahan serat limbah ampas tebu sebagai penguat, guna mengevaluasi pengaruh penambahan polyvinyl alcohol (PVA) terhadap kualitas biofoam yang dihasilkan. Dua formulasi biofoam disiapkan menggunakan metode baking process pada suhu 100°C selama 120 menit, yaitu Sampel A (dengan PVA) dan Sampel B (tanpa PVA), dengan penambahan ZnO dan gliserin pada kedua formulasi. Karakterisasi dilakukan melalui uji organoleptik, uji daya serap air, uji kebocoran, dan uji biodegradabilitas. Hasil uji organoleptik menunjukkan kedua sampel memiliki permukaan kasar, warna kecoklatan, dan kelenturan yang baik tanpa bau menyengat. Uji daya serap air menunjukkan Sampel B memiliki ketahanan air yang lebih baik (0% pada seluruh interval waktu pengujian) dibandingkan Sampel A (hingga 0,5% pada menit ke-15). Uji kebocoran menunjukkan kedua sampel mengalami kebocoran pada menit ke-13 dan ke-15 akibat keretakan dan kerapuhan struktur. Sementara itu, uji biodegradabilitas dalam tanah menunjukkan bahwa Sampel B terurai lebih cepat dibandingkan Sampel A, dengan kedua sampel terurai sepenuhnya pada hari ke-11. Hasil ini mengindikasikan bahwa penambahan PVA justru cenderung memperlambat laju biodegradasi biofoam meskipun berperan dalam pembentukan struktur, sehingga formulasi tanpa PVA menghasilkan biofoam dengan karakteristik yang relatif lebih baik sebagai alternatif kemasan pangan ramah lingkungan pengganti styrofoam.
Unduhan
Referensi
[1] Anwar, S. (2018). Sintesis plastik biodegradable berbahan komposit pati sagu-kitosan sisik ikan katamba. Jurnal Inovasi Pendidikan Sains, 9(1), 23–30.
[2] Ayu, A. K. P., Fatriani, & Trisnu, S. (2019). Pemanfaatan pohon sagu (Metroxylon sp) dan kualitas pati sagu dari Desa Salimuran Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Jurnal Sylva Scienteae, 2(6), 1086–1093.
[3] Cavallo, D., Tranfo, G., Ursini, C. L., Fresegna, A. M., Ciervo, A., Maiello, R., Paci, E., Pigini, D., Gherardi, M., Gatto, M. P., Buresti, G., & Iavicoli, S. (2018). Biomarkers of early genotoxicity and oxidative stress for occupational risk assessment of exposure to styrene in the fibreglass reinforced plastic industry. Toxicology Letters, 298(1), 53–59. https://doi.org/10.1016/j.toxlet.2018.06.002
[4] Chusnana, I. Y. (2016). Nilai guna ampas tebu di bidang material industri. Seminar Nasional Jurusan Fisika FMIPA UM, 13–16.
[5] Harni, M., Sari, R., Rini, R., & Suliasyah, I. (2022). Pati pada berbagai sumber tanaman. Jurnal Agroteknika, 5(1), 26–39.
[6] Harunsyah, Ratna, S., Yunus, M., & Reza, F. (2020). Pemanfaatan serat ampas tebu sebagai bahan biodegradable foam pengganti styrofoam sebagai bahan kemasan makanan yang ramah. Proceeding Seminar Nasional Politeknik Negeri Lhokseumawe, 4(1), 114–120.
[7] Jasdar, A., Syafirah, R., Putri, N. S., Dian, R. W., & Zuhrah, A. R. (2023). Pengembangan biodegradable foam berbahan dasar pati dari ekstrak jagung dengan penambahan serat dari pelepah pisang. Jurnal Chemica, 24(1), 78–86.
[8] Kaisangsri, N., Kerdchoechuen, O., & Laohakunjit, N. (2012). Biodegradable foam tray from cassava starch blended with natural fiber and chitosan. Industrial Crops and Products, 37(1), 542–546. https://doi.org/10.1016/j.indcrop.2011.07.031
[9] Linda, H., Dinda, A., & Azimatur, R. (2021). Pembuatan biofoam berbahan dasar ampas tebu dan whey. Jurnal Kimia dan Kemasan, 43(2), 75–81.
[10] Pamilia, C., Roosdiana, M., Hendra, W. S., Andre, M. R. A., & Robinsyah. (2018). Pengaruh konsentrasi NaOH serta rasio serat daun nanas dan ampas tebu pada pembuatan biofoam. Jurnal Teknik Kimia, 1(24), 1–7.
[11] Sarlinda, F., Hasan, A., & Ulma, Z. (2022). Pengaruh serat kulit kopi dan polivinil alkohol (PVA) terhadap karakteristik biodegradable foam dari pati kulit singkong. Jurnal Pengendalian Pencemaran Lingkungan, 4(2), 14–30.
[12] Singh, B., Singh, J. P., Kaur, A., & Singh, N. (2020). Phenolic composition, antioxidant potential and health benefits of citrus peel. Food Research International, 132, 109114. https://doi.org/10.1016/j.foodres.2020.109114
[13] Syamsul, B., Fitriani, & Jalaluddin. (2021). Pembuatan biofoam dari ampas tebu dan tepung maizena. Jurnal Teknologi Kimia Unimal, 10(1), 24–32.
[14] Yudith, V. P., Risa, N., & Antin, Y. (2017). Penerapan produksi bersih dalam upaya penurunan timbulan limbah cair di pabrik gula tebu. Jurnal Presipitasi: Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan, 14(2), 54–61
[15] SNI 7188.7:2016 — Spesifikasi kemasan biodegradable/plastik terurai. Badan Standardisasi Nasional.





