Dinamika Peran Aktor dalam Kerjasama Internasional Program RISE di Kota Makassar 2021–2024

Authors

  • Nur Aliyah Zainal Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
  • Armin Arsyad Universitas Hasanuddin
  • Adi Suryadi B Universitas Hasanuddin

DOI:

https://doi.org/10.24252/vp.v9i1.68696

Keywords:

Kerja Sama Internasional, Peran Aktor, RISE, Permukiman Informal, Water Sensitive Cities

Abstract

Penelitian ini menganalisis dinamika peran aktor dalam Program Revitalising Informal Settlements and Their Environments (RISE) di Kota Makassar periode 2021–2024. Program RISE merupakan kerja sama internasional yang bertujuan meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan permukiman informal melalui pendekatan Water Sensitive City (WSC). Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Monash University berperan sebagai inisiator dan pengembang konsep program, Asian Development Bank (ADB) sebagai fasilitator pendanaan dan implementasi, Universitas Hasanuddin sebagai mitra akademik lokal, serta Pemerintah Kota Makassar sebagai fasilitator kebijakan dan pelaksanaan di lapangan. Meskipun terdapat perbedaan kepentingan antaraktor, konflik dapat dikelola melalui koordinasi, pembagian peran, dan mekanisme konsensus. Temuan ini menunjukkan bahwa kolaborasi multiaktor menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembangunan permukiman informal yang berkelanjutan.

Author Biography

Nur Aliyah Zainal, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Ilmu Politik

References

Arimah, B. C. (2011). The face of urban poverty: Explaining the prevalence of slums in developing countries. In J. Beall, B. Guha-Khasnobis, & R. Kanbur (Eds.), Ur-banization and development: Multidisciplinary perspectives (pp. 143–164). Oxford Uni-versity Press.

Atika, F. A., & Ikaputra. (2023). Permukiman kumuh ditinjau dari kontinum formal dan informal (studi kasus: permukiman kumuh lintas negara). Media Komunikasi Geo-grafi (MKG), 24(2), 168–188. https://doi.org/10.23887/mkg.v24i2.65945

Barrett, S. (1999). A theory of full international cooperation. Journal of Theoretical Politics, 11(4), 519–541. https://doi.org/10.1177/0951692899011004004

Beier, R. (2020). Ordinary neighbourhoods: Stigma and reality in Casablanca's slums. suburban. Zeitschrift für kritische Stadtforschung, 8(3), 73–96. https://doi.org/10.36900/suburban.v8i3.592

Chirisa, I., & Muneta, Z. (2023). The global south and sustainability: Issues and con-straints. In R. Brinkmann (Ed.), The Palgrave handbook of global sustainability (pp. 955–968). Palgrave Macmillan.

Croese, S., Cirolia, L. R., & Graham, N. (2016). Towards Habitat III: Confronting the disjuncture between global policy and local practice on Africa's "challenge of slums". Habitat International, 53, 237–242. https://doi.org/10.1016/j.habitatint.2015.11.037

Dupont, V., Jordhus-Lier, D., Sutherland, C., & Braathen, E. (Eds.). (2015). The politics of slums in the global south: Urban informality in Brazil, India, South Africa and Peru. Routledge.

French, M., Burge, K., Leersnyder, A., Prescott, M. F., Ramirez-Lovering, D., & Wong, T. (2021). Water-sensitive informal settlement upgrading: Overall principles and approach. Asian Development Bank.

Downloads

Published

27-06-2026

Issue

Section

Artikel

Similar Articles

<< < > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.